Rabu, 23 Desember 2020

Bab yg Paling Mengena dari Buku The Danish Way of Parenting


Di blog ini aku ingin berbagi secara realistis. Aku akan menceritakan segala hal tanpa melebih-lebihkan atau bahkan mengurangi fakta atau kenyataan yang terjadi. Untukku, menjadi ibu sungguh adalah suatu hal yang sangat sulit terutama dalam hal meregulasi emosi. Ada hari dimana aku bisa sangat sabar dalam mengasuh anak, ada hari dimana aku benar-benar harus berjuang menjaga kewarasanku. Jujur kukatakan kepada kalian, perbandingannya mungkin bisa sampai 15:15. Bayangkan di dalam satu bulan, setengahnya kuhabiskan bergumul melawan sisi negatif diriku sendiri. Tentu saja banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini, contohnya seperti lelah dan stress. Aku seorang ibu dengan satu anak, tanpa asisten rumah tangga maupun babysitter, dan 3 hari dalam satu minggu aku harus mengurus usahaku di kantor dengan membawa anak. Tak tega kami menitipkan si anak, terutama di masa pandemi ini. Tidak, aku tidak mengeluh. Aku tidak pantas untuk mengeluh ketika banyak sekali para ibu diluar sana yang keadaannya jauh lebih tidak memungkinkan. Bersabarlah karena hal ini akan ada kaitannya dengan inti dari pertemuan/bab pertama kami.

Masak, kami tak ada waktu. Langganan catering adalah solusinya. Sama halnya untuk makanan Mave. Baju kotor, kami serahkan ke jasa cuci kiloan. Terima jadi, rapi dan wangi, tugasku hanya meletakan kembali baju yang sudah bersih ke dalam lemari. Sudah begitu, tapi entah bagaimana hariku selalu terasa penuh dan sesak. Bangun pagi, mandikan anak, siapkan sarapan anak, temani anak makan, urus diriku sendiri, hangatkan makan siang anak untuk dibawa ke kantor. Kalau di rumah, hangatkan makan siang anak sebelum dia tidur siang, supaya begitu bangun dia bisa langsung makan siang. Sering juga suamiku yang menyiapkan sarapan ketika aku memandikan si anak, supaya setelah mandi dia bisa langsung sarapan. Setelah itu, hari di kantor terasa berjalan dengan sangat cepat. Jika sedang di rumah, ada saja pekerjaan rumah yang harus aku lakukan seperti cuci baju, setrika baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Kulihat jam tiba-tiba sudah jam 5 sore, waktu dimana aku sangat berusaha untuk mengajak Mave menikmati segarnya angin di sore hari. Rutinitas pun berlanjut: mandi sore, makan malam, main sebentar, kemudian anak pun tidur. Tak selesai disitu, setelah anak tidur aku berberes rumah dan mengerjakan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Ada kalanya kopi pun tak mempan. Ketika waktu itu datang, aku hanya bisa tertidur sambil membawa beban pekerjaan yang belum aku kerjakan.

Ini hubungannya: Badan dan mentalku seperti ditarik sampai ambang batas. Tidak ada jeda, harus terus bergerak. Pada situasi inilah aku, sebagai seorang ibu, benar-benar sedang diuji. Apa reaksiku ketika hal-hal kecil yang dibuat anak memicu kemarahanku? Kata-kata apa yang akan keluar dari mulutku? Nada suara seperti apa yang aku berikan kepada anakku? Seringkali jawaban dari pertanyaan diatas, kulakukan secara tidak sadar. Seperti sudah otomatis, aku bereaksi kepada anakku seperti orang tuaku bereaksi kepadaku. Cara asuh orang tuaku seperti sudah mendarah daging dalam diriku dan terprogram di otakku. Ketika aku baca bagian ini di bab pertama, aku kecewa terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal yang orang tuaku lakukan terhadapku, hal yang aku tidak suka sama sekali, terhadap anakku, secara tidak sadar?

Aku putuskan, aku harus memutus lingkaran setan ini dengan cara mengubah default setting (pembawaan alami) yang ada dalam diriku. Aku sungguh tidak mau anakku menjadi diriku yang seperti ini akibat asuhan yang kurang tepat. Seringkali ketika dia sudah tertidur, aku sungguh merasa bersalah telah memarahinya untuk hal yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Tidak mudah, tentu saja tidak mudah mengubah default setting yang sudah tertanam dalam sampai alam bawah sadar. Tidak mudah ketika yang biasanya otomatis bernada tinggi ketika jengkel, kemudian harus bernada halus ketika emosi memuncak. Aku benar-benar harus melihat kembali pembawaan alami di dalam diriku. Pelajari dan pahami betul-betul. Pikirkan dulu baik-baik sebelum mengeluarkan kata apapun. Inilah yang bab pertama ajarkan kepadaku. Aku ingin menerapkan cara asuh yang dulu aku harapkan dari orang tuaku. Aku tidak ingin memperlakukan anakku seperti dulu aku diperlakukan. Sesederhana itu.

Untuk para orang tua, ketika malam hari tiba dan anakmu sedang tidur, sempatkanlah dirimu untuk berhenti dan duduk sejenak. Bagaimana sikap dan cara bicara kita terhadap anak hari ini? Apa yang kurang baik dan ingin kita ubah?

Rabu, 16 Desember 2020

Jalan Jalan ke Taman Safari Bogor

Bulan lalu aku, suami, dan anakku memutuskan untuk mengunjungi Taman Safari Bogor di tengah pandemi ini. Tentu saja kami takut dan was-was, tapi si anak sungguh sudah terlalu bosan di rumah dan dia sedang di puncaknya ingin tahu segala hal. Kami pikir, karena di dalam mobil saja, seharusnya tidak masalah pergi kesana. Tiga hari sebelumnya kami membeli tiket secara online di website Taman Safari Bogor. Aku cari di aplikasi seperti Traveloka, tetapi tidak tersedia. Kebetulan suamiku memang memiliki kartu kredit, sehingga pembayaran lebih mudah. Tapi tenang saja, jika tidak memiliki kartu kredit pembayaran bisa dilakukan melalui transfer. Nah sepertinya jika beli tiket online di website, harganya sedikit lebih murah. Ini harga di hari biasa ya, bukan Sabtu, Minggu, atau hari libur. Pada website tertera harga sebagai berikut: Lebih dari 6 tahun Rp195,000, kurang dari 5 tahun Rp170,000 (umur 5.5 tahun anggap saja 5 tahun). Jika dihitung, total 2 dewasa dan 1 anak seharusnya Rp560,000 bukan? Tetapi kami membayar secara online sejumlah Rp530,000 dengan rincian 2 dewasa masing-masing Rp185,000 dan 1 anak Rp160,000. Berarti kalau beli online, harga tiket lebih murah Rp10,000. Oh iya tambah biaya parkir mobil Rp20,000. Jadi total yang kami bayarkan adalah sebesar Rp550,000.

Dengan memakai masker dan mematuhi protokol yang ada, kami pun berangkat ke Taman Safari Bogor. Perjalanan mobil cukup lancar, berangkat pukul 8 pagi sampai disana pukul 10 pagi. Anakku tertidur tepat setelah kami sampai disana. Sambil menunggu dia bangun, saya dan suami membuka dan memakan bekal yang dibawa dari rumah untuk menghindari makan di tempat umum. Setelah selesai makan, kami memulai perjalanan safari di dalam mobil ketika akhirnya anakku terbangun. Masih terkantuk-kantuk anakku terdiam melihat banyak gajah. Sepertinya masih mengumpulkan nyawa. Saat melihat rusa dan onta, dia pun mulai mengoceh dan terlihat senang. Ini pengalaman pertama kalinya untuk anakku melihat hewan yang tadinya hanya bisa dia lihat di buku ataupun film. Kami tidak memberi makan mereka, karena sudah ada peraturan cukup jelas dimana para pengunjung dilarang memberi makan para hewan. Tetapi sepanjang perjalanan mendekati Taman Safari, banyak sekali penjual wortel dan hampir semua mobil yang kami lihat memberi makan hewan hewan ini. Anehnya pengawas Taman Safari juga melihatnya tetapi tidak menegur atau memberi komentar apapun. Cukup menegangkan ketika kami sampai di bagian hewan buas seperti harimau dan singa. Untungnya mereka semua sedang beristirahat dengan santai dan tidak mendekati mobil-mobil yang lewat. Kami dilarang membuka jendela. 

Setelah melakukan Safari Journey, kami parkir mobil di area A. Sungguh aneh ketika melihat area ini karena selama bertahun-tahun aku punya ingatan akan tempat ini tetapi tidak ingat dimana lokasinya. Ternyata disini, di parkir area A Taman Safari Bogor dan ingatanku merujuk ke liburan keluarga 10 tahun yang lalu. Sungguh indahnya memori itu, ketika Papi masih ada, masih sehat, masih bisa jalan. Tak pernah aku sangka 10 tahun kemudian aku akan mengunjungi tempat ini lagi bersama suami dan anakku. Tempat pertama yang kami kunjungi dia area ini adalah Baby Zoo. Seperti namanya, kebun binatang mini ini cukup menarik. Begitu masuk kami disambut langsung oleh kanguru. Aku sangat kaget ketika tiba-tiba ada kanguru disampingku, tetapi anakku justru santai saja ingin memegangnya. Itulah kadang yang aku kagum dari anak, mereka belum mengerti dunia ini, belum takut akan apapun. Sebelum sempat memegang, kanguru itu pun kabur. Naik kereta mini ke dunia dinosaurus, naik onta, semua dialami langsung oleh anakku. Aku tahu dia tidak akan ingat, yang paling penting aku bisa membuatnya senang untuk saat ini. 

Sebenarnya cukup banyak wahana binatang yang bisa dikunjungi, tetapi menurutku satu hari tidak cukup untuk mengunjungi semuanya. Apalagi dengan balita yang butuh tidur cukup lama di sela-sela waktu wisata. Harga yang kami bayarkan meliputi wahana Safari Journey, Istana Panda, 13 Wahana Permainan, 8 Presentasi Edukasi, Baby Zoo, Kubah Burung, Komodo Dragon Island, Pusat Primata, Air Terjun Curug Jaksa, Kampung Papua, Humboldt Penguin. Bayangkan saja, kami hanya sempat mengunjungi tiga dari semua yang sudah disebutkan. Presentasi Edukasi pun juga tak semuanya, karena jam pertunjukan ada yang bersamaan. Datang jam 10, pulang jam 5, dan sudah sangat lelah. Kami pikir anak kami yang hampir dua tahun ini tertarik dengan pertunjukan binatang, tetapi kenyataannya belum begitu. Mungkin nanti kalau dia sudah lebih besar, dia akan lebih antusias menonton pertunjukan. Kami juga tidak menyarankan untuk menonton pertunjukan, karena walaupun tempat duduk sudah diberi jarak antar rombongan tetap saja isi teater selalu penuh dengan orang. Menurutku waktu yang ada lebih baik dipakai untuk mengunjungi tempat lain. 

Begitulah cerita keluarga kami. Jika kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat ini lagi di masa depan, kami akan mengunjungi tempat yang belum sempat kami lihat dan tentu saja jika anak kami sudah beranjak besar supaya dia bisa sekaligus belajar akan berbagai hal. Komen di bawah jika ada yang ingin ditanyakan ya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Minggu, 13 Desember 2020

Awal Mula Diskusi Buku The Danish Way of Parenting

The Danish Way of Parenting: 
What the Happiest People in the World Know 
About Raising Confident, Capable Kids
oleh Iben Dissing Sandahl

Saat ini, tema parenting menjadi topik dan prioritas utama dalam pikiranku. Tentu saja karena aku sudah punya anak yang berumur hampir 2 tahun. Sebelum punya anak, mana pernah aku meletakkan pusat perhatianku pada topik ini. Aku berpikir, di umur anakku yang baru mau mendekati 2 tahun saja aku sudah mulai kebingungan tentang bagaimana aku harus bertindak sebagai orang tua. Apalagi nanti ketika dia sudah remaja? Jujur saja pikiran itu membuatku takut, maka dari itu mulai saat ini aku harus mencari tahu mana jalan yang terbaik untuk mendidik dan membesarkan anakku. Dimulai dari mencari panduan berupa buku. Ingin menangis rasanya ketika aku melihat begitu banyaknya buku bertema parenting di dunia ini. Tapi bagaimanapun aku harus memulai perjalanan parenting ini. Akhirnya aku jatuhkan pilihan ke dua buku, yang nantinya akan aku ulas setelah buku ini.

Awalnya "The Danish Way of Parenting" sudah masuk dalam nominasi bacaan yang akan aku beli, tetapi aku tunda karena judul dua buku lain itu membuatku sangat penasaran. Setelah setengah jalan membaca buku yang aku beli, seperti mendapatkan pencerahan aku menemukan akun instagram seorang Early Childhood Educator bernama Krista Endinda. Kemungkinan besar algoritma instagram memang mendeteksi apa yang sedang aku cari. Beliau mengumumkan bahwa pada bulan Oktober akan dimulai sebuah grup yang membahas tema parenting melalui buku ini. Tanpa pikir panjang aku beli bukunya dan mendaftarkan diri. Tanggal 17 Oktober 2020 pertemuan pertama diadakan melalui sesi Zoom, setiap hari Sabtu kita bertemu, difasilitasi oleh Ms. Dinda, dan berakhir minggu lalu pada tanggal 5 Desember 2020. Aku dan 24 ibu lainnya bertemu 8 kali karena ada 8 bab yang harus dibahas.

Sungguh, tidak ada habisnya ketika membicarakan tema parenting. Aku sangat bersyukur, entah bagaimana niatku dipertemukan dengan orang yang memiliki visi serupa. Aku tahu, pasti ada saja yang mengatakan "ah orang tua jaman dahulu tidak pernah baca buku untuk mendidik anak, tidak ada panduan dari siapapun, apalagi ikut grup baca buku. buktinya sekarang aku baik-baik saja. anakku juga sekarang baik-baik saja. kenapa harus repot-repot?". Pertama, ijinkanlah aku mengatakan hal ini: tolong kurangi generalisasi dari segala hal. Jaman dahulu pasti ada orang tua yang ingin cari tahu jalan parenting seperti apa yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin tidak ada. Kedua, apa itu definisi dari baik-baik saja? Setiap orang tua berharap yang paling baik untuk sang anak, tetapi definisi baik pun juga bisa berbeda bagi setiap orang tua. Ketiga, kalau memang harus repot untuk anak tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang baik, kenapa tidak? Mungkin itulah inti dari menjadi orang tua, harus selalu bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda serta memiliki cara pemikiran yang terbuka. Ada orang yang memang sudah berbakat secara alami menjadi orang tua tanpa perlu belajar, tapi diriku sudah jelas bukan orang itu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya.