Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2021

Pertemuan Pertama REA Masterclass

REGGIO EMILIA APPROACH (REA)

Hari Sabtu tanggal 16 Januari 2021 kemarin adalah pertemuan pertama kami di REA Masterclass yg difasilitasi oleh Early Childhood Educator Ms. Krista Endinda dan dipimpin oleh Pedagogical Consultant Ms. Ambra Lanzi. Lebih dari 150 peserta mengikuti kelas ini dan 80% persen darinya adalah orang tua, sisanya guru/tenaga pendidik. Aku merasa bangga melihat para peserta yang sangat antusias mengikuti kelas ini, karena ini artinya pelan-pelan masyarakat Indonesia mulai meletakkan perhatian yang lebih terhadap metode pengasuhan anak.

Reggio Emilia sendiri adalah nama kota kecil di negara Itali bagian utara. Singkat cerita, penduduk di kota itu ingin bangkit kembali setelah penderitaan Perang Dunia ke II. Salah satu caranya adalah dengan membangun sekolah untuk anak-anak yang pada saat itu juga mendapat dukungan besar dari para orang tua dan komunitas sekitar. Dari situ muncul Loris Malaguzzi, seorang tokoh penting di dalam dunia REA. Ia membangun sekolah untuk pendidikan anak usia dini, berkolaborasi dengan para pengajar di RE, dan mengembangkan teori REA yang menjadikan anak sebagai tokoh utama dalam proses pembelajaran serta menganut metode konstruktivis. REA bukan hanya filosofi pendidikan, tetapi juga filosofi kehidupan.. Sebagai orang tua, aku juga harus memberi contoh yang baik dan sungguh-sungguh mempraktekkan REA dalam kehidupan sehari-hari

IMAGE OF CHILD

REA percaya bahwa anak memiliki citra yang kuat, memiliki banyak potensi, kompeten, dan yang paling utama adalah mereka terhubung dengan orang dewasa maupun anak-anak lainnya. Mereka memiliki kesetaraan dan hak yang sama seperti layaknya orang dewasa. Proses pembelajaran lebih diutamakan dan dihargai daripada hanya hasil akhirnya. Selain itu, proses pembelajaran mereka terjadi dari kolaborasi yang baik antara orang tua, guru, lingkungan dan temannya di sekolah. Inilah yang membuatku ingin mengetahui REA secara lebih dalam lagi, karena selama ini aku merasa banyak sekali orang tua di Indonesia yang hanya mengandalkan guru dan tidak terlibat langsung di kehidupan pendidikan anak mereka. 

Orang tua seringkali memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap anak. Anak diharapkan belajar baca tulis dan hitung sebelum waktunya. Seolah semuanya bagaikan kompetisi dengan anak orang lain yang berujung memberi tekanan buruk terhadap anak. REA percaya bahwa yang paling penting dalam mendidik anak adalah bagaimana memberikan stimulasi yang baik sehingga anak bisa belajar dengan senang hati, tanpa beban, dan sesuai dengan kemampuan mereka. Ketika anak memberi pertanyaan,"Mama, kenapa langit warnanya biru?", berikanlah mereka stimulasi dengan memberikan pertanyaan lanjutan,"menurut kamu kenapa?". Apa kamu tahu, jawaban ilmiah yang rumit dari orang tua bisa membuat anak mundur dari rasa ingin tahunya! Jika anak bingung harus menjawab apa, katakanlah,"nanti kita cari tahu bersama-sama ya". Inilah peran orang dewasa dalam REA: menghormati opini dan sudut pandang anak, sebagai pengamat, sebagai teman kerja anak, serta pendengar yang baik!

EMBRACE YOUR CHILD

Di penghujung mendekati akhirnya kelas, ada kata-kata Ms. Ambra yang paling aku ingat dan paling berkesan: jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak lain. Masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda dan istimewa. My child is beautiful as he is! Anak bukan kertas kosong, mereka juga bukan kotak, yang bisa kita isi dengan apapun yang kita mau. Dalam diri anak sudah ada berbagai macam potensi, tugas orang dewasa adalah mengarahkan dan mengeluarkan potensi itu.

Bagaimana menurutmu? Apakah sejalan dengan apa yang kamu pikirkan selama ini? Untukku metode ini sungguh menarik dan bermanfaat untuk dipraktekkan. Semoga ringkasan ini bisa bermanfaat dan mungkin bisa membuatmu lebih ingin mendalami REA. Tak sabar untuk pertemuan kedua besok Sabtu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya...

Sabtu, 02 Januari 2021

Ulasan Singkat Buku The Danish Way of Parenting

Buku terjemahan dari bahasa Inggris yang terdiri dari 180 halaman ini ditulis oleh seorang terapis keluarga Iben Dissing Sandahl, dan Jessica Joelle Alexander, seorang ibu berkewarganegaraan Amerika Serikat yang menikah dengan seorang berkebangsaan Denmark. Mereka berdua percaya, cara orang Denmark mengasuh anaklah yang menjadi faktor utama dari keberhasilan Denmark mendapatkan label sebagai negara yang memiliki penduduk paling bahagia di dunia. Menurut mereka gaya mengasuh anak orang Denmark menghasilkan anak yang tangguh dan stabil secara emosional. 

Selain membahas "default settings" atau pembawaan alami dari orang tua, mereka juga membahas aspek lain yang terdiri dari Play (bermain), Authenticity (originalitas), Reframing (memaknai ulang), Empathy (empati), No Ultimatums (tanpa ultimatum), dan Togetherness (kebersamaan). Jika disingkat menjadi PARENT. Sudut pandang yang sudah disebutkan itulah yang menjadi dasar buku ini. Bab 1 membahas "P", bab 2 membahas "A", dan begitu seterusnya. Tapi disini aku harus jujur, membahas setiap bab dengan mengangkat judul dari inisial singkatan PARENT agak sedikit memaksa. 

Aku menulis ulasan ini setelah diskusi buku kami selesai, karena aku ingin tahu terlebih dahulu secara keseluruhan seperti apa isi buku ini. Ini menurutku: ringan untuk para orang tua baru, sangat menarik dan informatif, dan membuatku sadar akan banyak sekali hal yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan olehku. Tetapi jujur saja, aku merasa hal-hal positif yang ada di dalam buku ini tidak sepenuhnya terikat dengan Denmark itu sendiri. Dalam buku ini, secara tidak langsung Sandahl dan Alexander mengatakan bahwa pembawaan alami orang tua Amerika Serikat bukan selalu menjadi pilihan terbaik dalam mengasuh anak. Ya betul dua negara berbeda ini tentu saja memiliki budaya yang berbeda.

Tetapi para orang tua di Indonesia, Amerika, maupun negara lain pasti sudah ada yang mempraktekkan metode pembawaan alami orang Denmark tersebut tanpa adanya label "cara orang Indonesia" atau "cara orang Amerika". Semua orang tua pasti bertujuan untuk mencari yang terbaik bagi anaknya. Selama itu baik dan bermanfaat, tidak ada yang salah dengan cara orang mendidik anak di negara lain. Poin yang ingin aku sampaikan adalah, aku rasa judulnya akan lebih cocok jika "Danish" dihilangkan. Metode mengasuh anak yang ada di dalam buku ini sudah sangat umum sekali dipraktekkan di berbagai negara. Sekali lagi jangan salah, konten buku ini luar biasa, sangat layak dan patut dipraktekkan di dalam keluarga. Ini pendapatku, bagaimana menurut pendapatmu?


Rabu, 23 Desember 2020

Bab yg Paling Mengena dari Buku The Danish Way of Parenting


Di blog ini aku ingin berbagi secara realistis. Aku akan menceritakan segala hal tanpa melebih-lebihkan atau bahkan mengurangi fakta atau kenyataan yang terjadi. Untukku, menjadi ibu sungguh adalah suatu hal yang sangat sulit terutama dalam hal meregulasi emosi. Ada hari dimana aku bisa sangat sabar dalam mengasuh anak, ada hari dimana aku benar-benar harus berjuang menjaga kewarasanku. Jujur kukatakan kepada kalian, perbandingannya mungkin bisa sampai 15:15. Bayangkan di dalam satu bulan, setengahnya kuhabiskan bergumul melawan sisi negatif diriku sendiri. Tentu saja banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini, contohnya seperti lelah dan stress. Aku seorang ibu dengan satu anak, tanpa asisten rumah tangga maupun babysitter, dan 3 hari dalam satu minggu aku harus mengurus usahaku di kantor dengan membawa anak. Tak tega kami menitipkan si anak, terutama di masa pandemi ini. Tidak, aku tidak mengeluh. Aku tidak pantas untuk mengeluh ketika banyak sekali para ibu diluar sana yang keadaannya jauh lebih tidak memungkinkan. Bersabarlah karena hal ini akan ada kaitannya dengan inti dari pertemuan/bab pertama kami.

Masak, kami tak ada waktu. Langganan catering adalah solusinya. Sama halnya untuk makanan Mave. Baju kotor, kami serahkan ke jasa cuci kiloan. Terima jadi, rapi dan wangi, tugasku hanya meletakan kembali baju yang sudah bersih ke dalam lemari. Sudah begitu, tapi entah bagaimana hariku selalu terasa penuh dan sesak. Bangun pagi, mandikan anak, siapkan sarapan anak, temani anak makan, urus diriku sendiri, hangatkan makan siang anak untuk dibawa ke kantor. Kalau di rumah, hangatkan makan siang anak sebelum dia tidur siang, supaya begitu bangun dia bisa langsung makan siang. Sering juga suamiku yang menyiapkan sarapan ketika aku memandikan si anak, supaya setelah mandi dia bisa langsung sarapan. Setelah itu, hari di kantor terasa berjalan dengan sangat cepat. Jika sedang di rumah, ada saja pekerjaan rumah yang harus aku lakukan seperti cuci baju, setrika baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Kulihat jam tiba-tiba sudah jam 5 sore, waktu dimana aku sangat berusaha untuk mengajak Mave menikmati segarnya angin di sore hari. Rutinitas pun berlanjut: mandi sore, makan malam, main sebentar, kemudian anak pun tidur. Tak selesai disitu, setelah anak tidur aku berberes rumah dan mengerjakan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Ada kalanya kopi pun tak mempan. Ketika waktu itu datang, aku hanya bisa tertidur sambil membawa beban pekerjaan yang belum aku kerjakan.

Ini hubungannya: Badan dan mentalku seperti ditarik sampai ambang batas. Tidak ada jeda, harus terus bergerak. Pada situasi inilah aku, sebagai seorang ibu, benar-benar sedang diuji. Apa reaksiku ketika hal-hal kecil yang dibuat anak memicu kemarahanku? Kata-kata apa yang akan keluar dari mulutku? Nada suara seperti apa yang aku berikan kepada anakku? Seringkali jawaban dari pertanyaan diatas, kulakukan secara tidak sadar. Seperti sudah otomatis, aku bereaksi kepada anakku seperti orang tuaku bereaksi kepadaku. Cara asuh orang tuaku seperti sudah mendarah daging dalam diriku dan terprogram di otakku. Ketika aku baca bagian ini di bab pertama, aku kecewa terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal yang orang tuaku lakukan terhadapku, hal yang aku tidak suka sama sekali, terhadap anakku, secara tidak sadar?

Aku putuskan, aku harus memutus lingkaran setan ini dengan cara mengubah default setting (pembawaan alami) yang ada dalam diriku. Aku sungguh tidak mau anakku menjadi diriku yang seperti ini akibat asuhan yang kurang tepat. Seringkali ketika dia sudah tertidur, aku sungguh merasa bersalah telah memarahinya untuk hal yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Tidak mudah, tentu saja tidak mudah mengubah default setting yang sudah tertanam dalam sampai alam bawah sadar. Tidak mudah ketika yang biasanya otomatis bernada tinggi ketika jengkel, kemudian harus bernada halus ketika emosi memuncak. Aku benar-benar harus melihat kembali pembawaan alami di dalam diriku. Pelajari dan pahami betul-betul. Pikirkan dulu baik-baik sebelum mengeluarkan kata apapun. Inilah yang bab pertama ajarkan kepadaku. Aku ingin menerapkan cara asuh yang dulu aku harapkan dari orang tuaku. Aku tidak ingin memperlakukan anakku seperti dulu aku diperlakukan. Sesederhana itu.

Untuk para orang tua, ketika malam hari tiba dan anakmu sedang tidur, sempatkanlah dirimu untuk berhenti dan duduk sejenak. Bagaimana sikap dan cara bicara kita terhadap anak hari ini? Apa yang kurang baik dan ingin kita ubah?

Minggu, 13 Desember 2020

Awal Mula Diskusi Buku The Danish Way of Parenting

The Danish Way of Parenting: 
What the Happiest People in the World Know 
About Raising Confident, Capable Kids
oleh Iben Dissing Sandahl

Saat ini, tema parenting menjadi topik dan prioritas utama dalam pikiranku. Tentu saja karena aku sudah punya anak yang berumur hampir 2 tahun. Sebelum punya anak, mana pernah aku meletakkan pusat perhatianku pada topik ini. Aku berpikir, di umur anakku yang baru mau mendekati 2 tahun saja aku sudah mulai kebingungan tentang bagaimana aku harus bertindak sebagai orang tua. Apalagi nanti ketika dia sudah remaja? Jujur saja pikiran itu membuatku takut, maka dari itu mulai saat ini aku harus mencari tahu mana jalan yang terbaik untuk mendidik dan membesarkan anakku. Dimulai dari mencari panduan berupa buku. Ingin menangis rasanya ketika aku melihat begitu banyaknya buku bertema parenting di dunia ini. Tapi bagaimanapun aku harus memulai perjalanan parenting ini. Akhirnya aku jatuhkan pilihan ke dua buku, yang nantinya akan aku ulas setelah buku ini.

Awalnya "The Danish Way of Parenting" sudah masuk dalam nominasi bacaan yang akan aku beli, tetapi aku tunda karena judul dua buku lain itu membuatku sangat penasaran. Setelah setengah jalan membaca buku yang aku beli, seperti mendapatkan pencerahan aku menemukan akun instagram seorang Early Childhood Educator bernama Krista Endinda. Kemungkinan besar algoritma instagram memang mendeteksi apa yang sedang aku cari. Beliau mengumumkan bahwa pada bulan Oktober akan dimulai sebuah grup yang membahas tema parenting melalui buku ini. Tanpa pikir panjang aku beli bukunya dan mendaftarkan diri. Tanggal 17 Oktober 2020 pertemuan pertama diadakan melalui sesi Zoom, setiap hari Sabtu kita bertemu, difasilitasi oleh Ms. Dinda, dan berakhir minggu lalu pada tanggal 5 Desember 2020. Aku dan 24 ibu lainnya bertemu 8 kali karena ada 8 bab yang harus dibahas.

Sungguh, tidak ada habisnya ketika membicarakan tema parenting. Aku sangat bersyukur, entah bagaimana niatku dipertemukan dengan orang yang memiliki visi serupa. Aku tahu, pasti ada saja yang mengatakan "ah orang tua jaman dahulu tidak pernah baca buku untuk mendidik anak, tidak ada panduan dari siapapun, apalagi ikut grup baca buku. buktinya sekarang aku baik-baik saja. anakku juga sekarang baik-baik saja. kenapa harus repot-repot?". Pertama, ijinkanlah aku mengatakan hal ini: tolong kurangi generalisasi dari segala hal. Jaman dahulu pasti ada orang tua yang ingin cari tahu jalan parenting seperti apa yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin tidak ada. Kedua, apa itu definisi dari baik-baik saja? Setiap orang tua berharap yang paling baik untuk sang anak, tetapi definisi baik pun juga bisa berbeda bagi setiap orang tua. Ketiga, kalau memang harus repot untuk anak tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang baik, kenapa tidak? Mungkin itulah inti dari menjadi orang tua, harus selalu bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda serta memiliki cara pemikiran yang terbuka. Ada orang yang memang sudah berbakat secara alami menjadi orang tua tanpa perlu belajar, tapi diriku sudah jelas bukan orang itu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya.

Selasa, 06 Oktober 2020

Menjadi Ibu Baru

Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.

Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.

Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.

Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.

Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.

Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.

Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.

Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru: 

  • kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi. 
  • Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
  • Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri. 
  • Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi. 
  • Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.
Di luar itu semua, bisa dibilang aku sangat beruntung. Aku punya suami yang sangat baik dan sabar, serta bisa memenuhi semua kebutuhanku dan bayi. Aku bisa tinggal di tempat yg sangat layak dan mencukupi. Aku bisa mengurus bayiku dengan tangan dan badanku sendiri. Aku bisa memberikan ASI secara eksklusif, karena ternyata banyak ibu lain yg berjuang keras untuk memberikan ASI karena berbagai hal. Aku punya pekerjaan dan jam bekerja yg bisa selalu disesuaikan, tak harus pergi ke kantor pada jam tertentu. Sungguh aku bersyukur atas itu semua.

Ah... terlalu banyak hal yg dialami ibu baru. Yg aku tulis ini mungkin hanya sebagian kecil saja. Tulis di komentar ya kalau ada yg lupa aku sebutkan di tulisan ini. Untuk para ibu baru, INGAT, SEMUA HANYA UNTUK SEMENTARA, TIDAK ADA YANG SELAMANYA. Nikmati masa hamilmu, masa kamu menggendong dan menyusui bayimu, karena waktu berjalan begitu cepat! Saat ini memang terasa lelah dan berat, tapi lihatlah wajah anakmu, mereka sangat membutuhkanmu. Menjadi ibu sungguh tak ternilai harganya, merupakan hadiah terindah untukku, dianugerahi seorang anak yg sehat, aktif, dan pintar. Semoga aku bisa merawat dan mendidiknya dengan baik, sehingga dia menjadi orang yg baik dan sukses di masa depan...

Jumat, 02 Oktober 2020

Bayiku Tidur di Kamar Sendiri

Sejak anakku masih di dalam perut, aku memang berniat banget melatih dia untuk tidur sendiri setelah dia lahir. Kamar dan kasur udah disiapin semua. Tapi akhir-akhir ini aku baru sadar, ternyata kok setelah baca berbagai forum, khususnya di Indonesia ini budayanya adalah bayi tidur bersama orang tua. Ada juga yg bilang kesannya kejam amat bayi dibiarin tidur sendiri. Aku kaget sih, aku sampe sempet bertanya-tanya apa selama ini aku salah?

Tentu saja aku memutuskan untuk melatih anakku tidur sendiri itu ada pertimbangannya ya. Alasan paling utama adalah berdasarkan pengalamanku sendiri. Dari kecil sampai mau lulus SMP, aku tidur bareng di satu kamar besar sama mami dan adek-adekku. Begitu udah mau SMA, aku harus banyak ngelembur belajar kan. Kadang abis belajar mau langsung tidur aja gitu. Udah gitu rasanya tuh gak tenang tidur rame-rame gitu, ada aja yg bikin suara (ngorok, bolak-balik badan di tempat tidur, dsb). Akhirnya aku minta kamar sendiri dan tebak apa yg terjadi? Aku ketakutan. Ya mungkin kalo abis nonton horror bisa karena itu juga. Tapi seringnya tuh ketakutan karena gak biasa tidur sendiri. Mau merem kayak ada sesuatu yg hilang. Gimana ya, susah jelasinnya. Baru setelah beberapa minggu, akhirnya aku bisa adaptasi dan bisa tidur. Itu aja harus pake lampu terang, gak bisa lampu oren juga apalagi gelap.

Itulah kenapa aku mau biasain anakku tidur sendiri. Tapi sampai sekarang sih di Amerika Serikat ya contohnya, sepertinya masih ada pro-kontra juga. Ada penelitian yg mengatakan bahwa bayi tidur bersama orang tua bisa menghindarkan bayi dari SIDS alias kematian mendadak pada bayi. Tapi sekarang ada penelitian terbaru juga yg berkata bahwa bayi yg tidur bersama orang tua itu tidurnya lebih pendek dan sebenernya gak aman karena banyak objek di kasur yg bisa berbahaya untuk bayi seperti bantal, guling, selimut, atau bahkan bisa juga orang tua secara gak sadar menimpa anaknya yg sedang tidur!

Aku akan bandingkan hasil penelitian di atas tadi dengan pengalamanku sendiri ya: 

1. Tidur sendiri, bangunnya lebih lama: betul. Tapi kalo gak ada halangan seperti sedang tumbuh gigi ya. Di umur 1 tahun tidur jam 9 malam, bangun jam 6 pagi, paling bangun satu kali. Dikasi ASI abis itu tidur lagi. Kalo sedang tumbuh gigi, bisa bangun beberapa kali. Sebisa mungkin kalo dia udah tidur lagi, langsung tinggal aja. Kadang capek banget bolak balik, tapi itu satu-satunya cara supaya dia nantinya bisa tidur sendiri.

2. Tidur sendiri, kalo bangun lebih gampang balik tidur lagi: betul. Seperti yg aku bilang di atas ya, kalo bangun aku kasi ASI. Abis itu dia tidur lagi.

3. Tidur sendiri, jadwal tidur selalu sama: betul. Gak ada tuh melek sampe pagi, gak tidur tidur. Siang juga kalo udah jamnya anakku pasti istirahat tidur. Aku kadang lihat story instagram orang lain yg anaknya seumuran anakku, jam 12 pagi belum tidur. Setelah aku lihat ya memang ternyata dia tidurnya bareng orang tua.

Selalu lihat dari kondisi bayi masing-masing ya... Anakku dibiarkan tidur sendiri karena untungnya dia bayi yg sehat. Lahir secara alami di umur kehamilan 9 bulan dan tidak ada masalah pernapasan ataupun yg lainnya. Sampai dia umur 1 tahun, aku gak pernah sampai harus bangunin dia untuk ASI. Awal awal memang capek banget, baru di umur 2.5 bulan akhirnya anakku bisa ditinggal tidur sendiri di kamarnya. Sebelumnya aku harus selalu gendong dia sambil duduk di sofa samping tempat tidurnya supaya dia tidur. Mau gimanapun aku tetep usahain supaya dia selalu berada di kamarnya sendiri waktu tidur, supaya terbiasa dengan lingkungan tidurnya. Aku sama suami tidur di kamar sebelah dia ya, bener bener sebelahan banget. Jadi kalo dia nangis bisa langsung denger (kebetulan aku juga orangnya gampang banget bangun kalo ada suara). 

Kesimpulannya, aku rasa gak ada yg salah. Ada orang tua yg mau tidur bareng anaknya, selagi masih kecil mau manfaatkan waktu bersama. Kapan lagi bisa tidur rame-rame ya kan. Kalo anak udah gede pasti gak akan mau. Saya beda lagi ya pendapatnya, saya harus bisa dapet tidur yg baik kualitasnya. Saya urus bayi saya sendiri, gak ada nanny/babysitter, gak ada asisten rumah tangga. Jadi setelah seharian lelah mengurus anak, malamnya saya harus istirahat yg cukup juga. Caranya adalah dengan membiarkan anak tidur sendiri. Menurut saya itu tidak kejam dan ada baiknya juga bagi orang tua maupun anak. 

Oke kayanya segitu dulu ya, ntar lanjut lagi kapan-kapan hehehee