Tampilkan postingan dengan label Baby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baby. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2020

Menjadi Ibu Baru

Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.

Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.

Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.

Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.

Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.

Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.

Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.

Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru: 

  • kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi. 
  • Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
  • Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri. 
  • Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi. 
  • Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.
Di luar itu semua, bisa dibilang aku sangat beruntung. Aku punya suami yang sangat baik dan sabar, serta bisa memenuhi semua kebutuhanku dan bayi. Aku bisa tinggal di tempat yg sangat layak dan mencukupi. Aku bisa mengurus bayiku dengan tangan dan badanku sendiri. Aku bisa memberikan ASI secara eksklusif, karena ternyata banyak ibu lain yg berjuang keras untuk memberikan ASI karena berbagai hal. Aku punya pekerjaan dan jam bekerja yg bisa selalu disesuaikan, tak harus pergi ke kantor pada jam tertentu. Sungguh aku bersyukur atas itu semua.

Ah... terlalu banyak hal yg dialami ibu baru. Yg aku tulis ini mungkin hanya sebagian kecil saja. Tulis di komentar ya kalau ada yg lupa aku sebutkan di tulisan ini. Untuk para ibu baru, INGAT, SEMUA HANYA UNTUK SEMENTARA, TIDAK ADA YANG SELAMANYA. Nikmati masa hamilmu, masa kamu menggendong dan menyusui bayimu, karena waktu berjalan begitu cepat! Saat ini memang terasa lelah dan berat, tapi lihatlah wajah anakmu, mereka sangat membutuhkanmu. Menjadi ibu sungguh tak ternilai harganya, merupakan hadiah terindah untukku, dianugerahi seorang anak yg sehat, aktif, dan pintar. Semoga aku bisa merawat dan mendidiknya dengan baik, sehingga dia menjadi orang yg baik dan sukses di masa depan...

Jumat, 02 Oktober 2020

Bayiku Tidur di Kamar Sendiri

Sejak anakku masih di dalam perut, aku memang berniat banget melatih dia untuk tidur sendiri setelah dia lahir. Kamar dan kasur udah disiapin semua. Tapi akhir-akhir ini aku baru sadar, ternyata kok setelah baca berbagai forum, khususnya di Indonesia ini budayanya adalah bayi tidur bersama orang tua. Ada juga yg bilang kesannya kejam amat bayi dibiarin tidur sendiri. Aku kaget sih, aku sampe sempet bertanya-tanya apa selama ini aku salah?

Tentu saja aku memutuskan untuk melatih anakku tidur sendiri itu ada pertimbangannya ya. Alasan paling utama adalah berdasarkan pengalamanku sendiri. Dari kecil sampai mau lulus SMP, aku tidur bareng di satu kamar besar sama mami dan adek-adekku. Begitu udah mau SMA, aku harus banyak ngelembur belajar kan. Kadang abis belajar mau langsung tidur aja gitu. Udah gitu rasanya tuh gak tenang tidur rame-rame gitu, ada aja yg bikin suara (ngorok, bolak-balik badan di tempat tidur, dsb). Akhirnya aku minta kamar sendiri dan tebak apa yg terjadi? Aku ketakutan. Ya mungkin kalo abis nonton horror bisa karena itu juga. Tapi seringnya tuh ketakutan karena gak biasa tidur sendiri. Mau merem kayak ada sesuatu yg hilang. Gimana ya, susah jelasinnya. Baru setelah beberapa minggu, akhirnya aku bisa adaptasi dan bisa tidur. Itu aja harus pake lampu terang, gak bisa lampu oren juga apalagi gelap.

Itulah kenapa aku mau biasain anakku tidur sendiri. Tapi sampai sekarang sih di Amerika Serikat ya contohnya, sepertinya masih ada pro-kontra juga. Ada penelitian yg mengatakan bahwa bayi tidur bersama orang tua bisa menghindarkan bayi dari SIDS alias kematian mendadak pada bayi. Tapi sekarang ada penelitian terbaru juga yg berkata bahwa bayi yg tidur bersama orang tua itu tidurnya lebih pendek dan sebenernya gak aman karena banyak objek di kasur yg bisa berbahaya untuk bayi seperti bantal, guling, selimut, atau bahkan bisa juga orang tua secara gak sadar menimpa anaknya yg sedang tidur!

Aku akan bandingkan hasil penelitian di atas tadi dengan pengalamanku sendiri ya: 

1. Tidur sendiri, bangunnya lebih lama: betul. Tapi kalo gak ada halangan seperti sedang tumbuh gigi ya. Di umur 1 tahun tidur jam 9 malam, bangun jam 6 pagi, paling bangun satu kali. Dikasi ASI abis itu tidur lagi. Kalo sedang tumbuh gigi, bisa bangun beberapa kali. Sebisa mungkin kalo dia udah tidur lagi, langsung tinggal aja. Kadang capek banget bolak balik, tapi itu satu-satunya cara supaya dia nantinya bisa tidur sendiri.

2. Tidur sendiri, kalo bangun lebih gampang balik tidur lagi: betul. Seperti yg aku bilang di atas ya, kalo bangun aku kasi ASI. Abis itu dia tidur lagi.

3. Tidur sendiri, jadwal tidur selalu sama: betul. Gak ada tuh melek sampe pagi, gak tidur tidur. Siang juga kalo udah jamnya anakku pasti istirahat tidur. Aku kadang lihat story instagram orang lain yg anaknya seumuran anakku, jam 12 pagi belum tidur. Setelah aku lihat ya memang ternyata dia tidurnya bareng orang tua.

Selalu lihat dari kondisi bayi masing-masing ya... Anakku dibiarkan tidur sendiri karena untungnya dia bayi yg sehat. Lahir secara alami di umur kehamilan 9 bulan dan tidak ada masalah pernapasan ataupun yg lainnya. Sampai dia umur 1 tahun, aku gak pernah sampai harus bangunin dia untuk ASI. Awal awal memang capek banget, baru di umur 2.5 bulan akhirnya anakku bisa ditinggal tidur sendiri di kamarnya. Sebelumnya aku harus selalu gendong dia sambil duduk di sofa samping tempat tidurnya supaya dia tidur. Mau gimanapun aku tetep usahain supaya dia selalu berada di kamarnya sendiri waktu tidur, supaya terbiasa dengan lingkungan tidurnya. Aku sama suami tidur di kamar sebelah dia ya, bener bener sebelahan banget. Jadi kalo dia nangis bisa langsung denger (kebetulan aku juga orangnya gampang banget bangun kalo ada suara). 

Kesimpulannya, aku rasa gak ada yg salah. Ada orang tua yg mau tidur bareng anaknya, selagi masih kecil mau manfaatkan waktu bersama. Kapan lagi bisa tidur rame-rame ya kan. Kalo anak udah gede pasti gak akan mau. Saya beda lagi ya pendapatnya, saya harus bisa dapet tidur yg baik kualitasnya. Saya urus bayi saya sendiri, gak ada nanny/babysitter, gak ada asisten rumah tangga. Jadi setelah seharian lelah mengurus anak, malamnya saya harus istirahat yg cukup juga. Caranya adalah dengan membiarkan anak tidur sendiri. Menurut saya itu tidak kejam dan ada baiknya juga bagi orang tua maupun anak. 

Oke kayanya segitu dulu ya, ntar lanjut lagi kapan-kapan hehehee