Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2021

Kilas Balik ke 2020 dan Harapan untuk 2021

Tahun lalu sepertinya menjadi tamparan keras bagi banyak orang di seluruh dunia ya? Siapa lagi kalau bukan karena Corona. Untuk yang di Jakarta dan sekitarnya, bulan Januari diawali dengan banjir besar. Sungguh melelahkan ketika rumah di terjang banjir sebanyak empat kali. Sudah dibersihkan, kemudian banjir lagi. Lumpur dimana-mana, banyak barang terendam air. Hatiku kesal sekali ketika melihatnya. Tetapi aku masih beruntung karena sejak punya anak, kami sekeluarga sudah pindah ke tempat tinggal lain. Hanya barang-barang di rumah lama saja yang hancur.

Kemudian muncul berita merebaknya virus di kota Wuhan. Sejak bulan Januari, aku sudah mulai waspada. Pernikahan teman baikku pada bulan Februari pun aku terpaksa tidak hadiri, karena aku ada bayi yang harus kujaga betul betul kesehatannya. Terekam dengan sangat baik di ingatanku, pemerintah mengklaim di media bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus di Indonesia. Skeptis aku dibuatnya. Sangat, sangat skeptis. Tidak mungkin, pikirku. Tidak mungkin bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus Corona di Indonesia ini, selagi penerbangan internasional masih berjalan dan dibuka bebas. Itulah alasanku kenapa aku juga sudah mengurung diriku dan si bayi di rumah sejak bulan Februari, dimana pemerintah akhirnya mengumumkan pasien Corona pertama pada bulan Maret. 

Setelahnya kita semua tahu apa yang terjadi. Pembatasan pergerakan masyarakat pun diberlakukan, dan semua yang bisa tinggal di rumah, harus tetap di rumah. Banyak orang yang tadinya berangkat kerja setiap hari, kini harus bekerja dari rumah. Anak-anak hanya bisa menatap gurunya lewat komputer. Sakit hatiku juga pada masa awal virus Corona terjadi, bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang meremehkan. Ada pula yang tersinggung ketika aku mengatakan kepada mereka untuk jangan bertemu dulu. Ada pula yang tidak mengindahkan kata-kataku ketika aku menyarankan mereka untuk tidak bepergian keluar kota terlebih dahulu. Ya sudah, aku tidak ingin menyimpan perasaan negatif apapun, yang terjadi sudah terjadi.

Sekali lagi aku sangat beruntung. Sungguh masih termasuk yang sangat beruntung. Aku dan suami mengelola usaha sendiri. Karena pandemi, bayi kuajak ke kantor hanya tiga kali dalam satu minggu. Sisanya suami berangkat sendiri kesana. Kami beruntung karena kami tidak bekerja di sebuah perusahaan lain dan otomatis kami tidak perlu mengikuti aturan orang lain. Kami bisa sesuaikan waktu, karena memang agak rumit sekarang situasinya ketika ada bayi tanpa asisten ataupun "nanny". Di saat pandemi pun kami sangat bersyukur karena ada proyek kerja. Toko online pun masih berjalan. Lelah, stress, tentu saja pasti ada kalau bekerja keras. Tapi berkat yang kami terima, sungguh jauh melebihi rasa lelah kami. Sampai detik ini pun kami juga masih diberi kesehatan, sungguh anugerah yang luar biasa.

Pengalaman paling berharga untukku di 2020 mungkin adalah menjadi orang tua. Melihat perkembangan bayiku yang begitu luar biasa, diberi anak yang pintar dan sehat dan aku belajar menjadi orang tua. Tentu saja ada momen dimana aku terjatuh, menangis, tertekan, tapi kemudian aku bisa bangkit lagi. Kadang terasa sangat sulit untukku beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai ibu, tapi perlahan aku bisa menikmatinya. Aku bahkan berhasil membuatkan anakku mainan kayu dengan desainku sendiri. Aku ikut diskusi buku "parenting" dengan ibu-ibu lain. Dan yang paling penting, aku bisa menikmati waktu dengan anakku.    

Halo 2021, aku tahu kehidupan manusia tak akan pernah mudah. Untuk mengharapkan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan, pasti dibutuhkan juga kerja keras yang tiada habisnya. Aku tahu pasti akan banyak waktu dimana aku merasa lelah, hampir menyerah, dan tertekan. Tapi aku tidak akan kalah dengan itu semua. Semoga: kami sekeluarga dan kita semua tentunya, diberi kesehatan, diberi rejeki yang melimpah, diberi kebahagian serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ulasan Singkat Buku The Danish Way of Parenting

Buku terjemahan dari bahasa Inggris yang terdiri dari 180 halaman ini ditulis oleh seorang terapis keluarga Iben Dissing Sandahl, dan Jessica Joelle Alexander, seorang ibu berkewarganegaraan Amerika Serikat yang menikah dengan seorang berkebangsaan Denmark. Mereka berdua percaya, cara orang Denmark mengasuh anaklah yang menjadi faktor utama dari keberhasilan Denmark mendapatkan label sebagai negara yang memiliki penduduk paling bahagia di dunia. Menurut mereka gaya mengasuh anak orang Denmark menghasilkan anak yang tangguh dan stabil secara emosional. 

Selain membahas "default settings" atau pembawaan alami dari orang tua, mereka juga membahas aspek lain yang terdiri dari Play (bermain), Authenticity (originalitas), Reframing (memaknai ulang), Empathy (empati), No Ultimatums (tanpa ultimatum), dan Togetherness (kebersamaan). Jika disingkat menjadi PARENT. Sudut pandang yang sudah disebutkan itulah yang menjadi dasar buku ini. Bab 1 membahas "P", bab 2 membahas "A", dan begitu seterusnya. Tapi disini aku harus jujur, membahas setiap bab dengan mengangkat judul dari inisial singkatan PARENT agak sedikit memaksa. 

Aku menulis ulasan ini setelah diskusi buku kami selesai, karena aku ingin tahu terlebih dahulu secara keseluruhan seperti apa isi buku ini. Ini menurutku: ringan untuk para orang tua baru, sangat menarik dan informatif, dan membuatku sadar akan banyak sekali hal yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan olehku. Tetapi jujur saja, aku merasa hal-hal positif yang ada di dalam buku ini tidak sepenuhnya terikat dengan Denmark itu sendiri. Dalam buku ini, secara tidak langsung Sandahl dan Alexander mengatakan bahwa pembawaan alami orang tua Amerika Serikat bukan selalu menjadi pilihan terbaik dalam mengasuh anak. Ya betul dua negara berbeda ini tentu saja memiliki budaya yang berbeda.

Tetapi para orang tua di Indonesia, Amerika, maupun negara lain pasti sudah ada yang mempraktekkan metode pembawaan alami orang Denmark tersebut tanpa adanya label "cara orang Indonesia" atau "cara orang Amerika". Semua orang tua pasti bertujuan untuk mencari yang terbaik bagi anaknya. Selama itu baik dan bermanfaat, tidak ada yang salah dengan cara orang mendidik anak di negara lain. Poin yang ingin aku sampaikan adalah, aku rasa judulnya akan lebih cocok jika "Danish" dihilangkan. Metode mengasuh anak yang ada di dalam buku ini sudah sangat umum sekali dipraktekkan di berbagai negara. Sekali lagi jangan salah, konten buku ini luar biasa, sangat layak dan patut dipraktekkan di dalam keluarga. Ini pendapatku, bagaimana menurut pendapatmu?


Rabu, 23 Desember 2020

Bab yg Paling Mengena dari Buku The Danish Way of Parenting


Di blog ini aku ingin berbagi secara realistis. Aku akan menceritakan segala hal tanpa melebih-lebihkan atau bahkan mengurangi fakta atau kenyataan yang terjadi. Untukku, menjadi ibu sungguh adalah suatu hal yang sangat sulit terutama dalam hal meregulasi emosi. Ada hari dimana aku bisa sangat sabar dalam mengasuh anak, ada hari dimana aku benar-benar harus berjuang menjaga kewarasanku. Jujur kukatakan kepada kalian, perbandingannya mungkin bisa sampai 15:15. Bayangkan di dalam satu bulan, setengahnya kuhabiskan bergumul melawan sisi negatif diriku sendiri. Tentu saja banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini, contohnya seperti lelah dan stress. Aku seorang ibu dengan satu anak, tanpa asisten rumah tangga maupun babysitter, dan 3 hari dalam satu minggu aku harus mengurus usahaku di kantor dengan membawa anak. Tak tega kami menitipkan si anak, terutama di masa pandemi ini. Tidak, aku tidak mengeluh. Aku tidak pantas untuk mengeluh ketika banyak sekali para ibu diluar sana yang keadaannya jauh lebih tidak memungkinkan. Bersabarlah karena hal ini akan ada kaitannya dengan inti dari pertemuan/bab pertama kami.

Masak, kami tak ada waktu. Langganan catering adalah solusinya. Sama halnya untuk makanan Mave. Baju kotor, kami serahkan ke jasa cuci kiloan. Terima jadi, rapi dan wangi, tugasku hanya meletakan kembali baju yang sudah bersih ke dalam lemari. Sudah begitu, tapi entah bagaimana hariku selalu terasa penuh dan sesak. Bangun pagi, mandikan anak, siapkan sarapan anak, temani anak makan, urus diriku sendiri, hangatkan makan siang anak untuk dibawa ke kantor. Kalau di rumah, hangatkan makan siang anak sebelum dia tidur siang, supaya begitu bangun dia bisa langsung makan siang. Sering juga suamiku yang menyiapkan sarapan ketika aku memandikan si anak, supaya setelah mandi dia bisa langsung sarapan. Setelah itu, hari di kantor terasa berjalan dengan sangat cepat. Jika sedang di rumah, ada saja pekerjaan rumah yang harus aku lakukan seperti cuci baju, setrika baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Kulihat jam tiba-tiba sudah jam 5 sore, waktu dimana aku sangat berusaha untuk mengajak Mave menikmati segarnya angin di sore hari. Rutinitas pun berlanjut: mandi sore, makan malam, main sebentar, kemudian anak pun tidur. Tak selesai disitu, setelah anak tidur aku berberes rumah dan mengerjakan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Ada kalanya kopi pun tak mempan. Ketika waktu itu datang, aku hanya bisa tertidur sambil membawa beban pekerjaan yang belum aku kerjakan.

Ini hubungannya: Badan dan mentalku seperti ditarik sampai ambang batas. Tidak ada jeda, harus terus bergerak. Pada situasi inilah aku, sebagai seorang ibu, benar-benar sedang diuji. Apa reaksiku ketika hal-hal kecil yang dibuat anak memicu kemarahanku? Kata-kata apa yang akan keluar dari mulutku? Nada suara seperti apa yang aku berikan kepada anakku? Seringkali jawaban dari pertanyaan diatas, kulakukan secara tidak sadar. Seperti sudah otomatis, aku bereaksi kepada anakku seperti orang tuaku bereaksi kepadaku. Cara asuh orang tuaku seperti sudah mendarah daging dalam diriku dan terprogram di otakku. Ketika aku baca bagian ini di bab pertama, aku kecewa terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal yang orang tuaku lakukan terhadapku, hal yang aku tidak suka sama sekali, terhadap anakku, secara tidak sadar?

Aku putuskan, aku harus memutus lingkaran setan ini dengan cara mengubah default setting (pembawaan alami) yang ada dalam diriku. Aku sungguh tidak mau anakku menjadi diriku yang seperti ini akibat asuhan yang kurang tepat. Seringkali ketika dia sudah tertidur, aku sungguh merasa bersalah telah memarahinya untuk hal yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Tidak mudah, tentu saja tidak mudah mengubah default setting yang sudah tertanam dalam sampai alam bawah sadar. Tidak mudah ketika yang biasanya otomatis bernada tinggi ketika jengkel, kemudian harus bernada halus ketika emosi memuncak. Aku benar-benar harus melihat kembali pembawaan alami di dalam diriku. Pelajari dan pahami betul-betul. Pikirkan dulu baik-baik sebelum mengeluarkan kata apapun. Inilah yang bab pertama ajarkan kepadaku. Aku ingin menerapkan cara asuh yang dulu aku harapkan dari orang tuaku. Aku tidak ingin memperlakukan anakku seperti dulu aku diperlakukan. Sesederhana itu.

Untuk para orang tua, ketika malam hari tiba dan anakmu sedang tidur, sempatkanlah dirimu untuk berhenti dan duduk sejenak. Bagaimana sikap dan cara bicara kita terhadap anak hari ini? Apa yang kurang baik dan ingin kita ubah?

Minggu, 13 Desember 2020

Awal Mula Diskusi Buku The Danish Way of Parenting

The Danish Way of Parenting: 
What the Happiest People in the World Know 
About Raising Confident, Capable Kids
oleh Iben Dissing Sandahl

Saat ini, tema parenting menjadi topik dan prioritas utama dalam pikiranku. Tentu saja karena aku sudah punya anak yang berumur hampir 2 tahun. Sebelum punya anak, mana pernah aku meletakkan pusat perhatianku pada topik ini. Aku berpikir, di umur anakku yang baru mau mendekati 2 tahun saja aku sudah mulai kebingungan tentang bagaimana aku harus bertindak sebagai orang tua. Apalagi nanti ketika dia sudah remaja? Jujur saja pikiran itu membuatku takut, maka dari itu mulai saat ini aku harus mencari tahu mana jalan yang terbaik untuk mendidik dan membesarkan anakku. Dimulai dari mencari panduan berupa buku. Ingin menangis rasanya ketika aku melihat begitu banyaknya buku bertema parenting di dunia ini. Tapi bagaimanapun aku harus memulai perjalanan parenting ini. Akhirnya aku jatuhkan pilihan ke dua buku, yang nantinya akan aku ulas setelah buku ini.

Awalnya "The Danish Way of Parenting" sudah masuk dalam nominasi bacaan yang akan aku beli, tetapi aku tunda karena judul dua buku lain itu membuatku sangat penasaran. Setelah setengah jalan membaca buku yang aku beli, seperti mendapatkan pencerahan aku menemukan akun instagram seorang Early Childhood Educator bernama Krista Endinda. Kemungkinan besar algoritma instagram memang mendeteksi apa yang sedang aku cari. Beliau mengumumkan bahwa pada bulan Oktober akan dimulai sebuah grup yang membahas tema parenting melalui buku ini. Tanpa pikir panjang aku beli bukunya dan mendaftarkan diri. Tanggal 17 Oktober 2020 pertemuan pertama diadakan melalui sesi Zoom, setiap hari Sabtu kita bertemu, difasilitasi oleh Ms. Dinda, dan berakhir minggu lalu pada tanggal 5 Desember 2020. Aku dan 24 ibu lainnya bertemu 8 kali karena ada 8 bab yang harus dibahas.

Sungguh, tidak ada habisnya ketika membicarakan tema parenting. Aku sangat bersyukur, entah bagaimana niatku dipertemukan dengan orang yang memiliki visi serupa. Aku tahu, pasti ada saja yang mengatakan "ah orang tua jaman dahulu tidak pernah baca buku untuk mendidik anak, tidak ada panduan dari siapapun, apalagi ikut grup baca buku. buktinya sekarang aku baik-baik saja. anakku juga sekarang baik-baik saja. kenapa harus repot-repot?". Pertama, ijinkanlah aku mengatakan hal ini: tolong kurangi generalisasi dari segala hal. Jaman dahulu pasti ada orang tua yang ingin cari tahu jalan parenting seperti apa yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin tidak ada. Kedua, apa itu definisi dari baik-baik saja? Setiap orang tua berharap yang paling baik untuk sang anak, tetapi definisi baik pun juga bisa berbeda bagi setiap orang tua. Ketiga, kalau memang harus repot untuk anak tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang baik, kenapa tidak? Mungkin itulah inti dari menjadi orang tua, harus selalu bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda serta memiliki cara pemikiran yang terbuka. Ada orang yang memang sudah berbakat secara alami menjadi orang tua tanpa perlu belajar, tapi diriku sudah jelas bukan orang itu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya.

Selasa, 06 Oktober 2020

Menjadi Ibu Baru

Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.

Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.

Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.

Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.

Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.

Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.

Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.

Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru: 

  • kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi. 
  • Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
  • Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri. 
  • Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi. 
  • Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.
Di luar itu semua, bisa dibilang aku sangat beruntung. Aku punya suami yang sangat baik dan sabar, serta bisa memenuhi semua kebutuhanku dan bayi. Aku bisa tinggal di tempat yg sangat layak dan mencukupi. Aku bisa mengurus bayiku dengan tangan dan badanku sendiri. Aku bisa memberikan ASI secara eksklusif, karena ternyata banyak ibu lain yg berjuang keras untuk memberikan ASI karena berbagai hal. Aku punya pekerjaan dan jam bekerja yg bisa selalu disesuaikan, tak harus pergi ke kantor pada jam tertentu. Sungguh aku bersyukur atas itu semua.

Ah... terlalu banyak hal yg dialami ibu baru. Yg aku tulis ini mungkin hanya sebagian kecil saja. Tulis di komentar ya kalau ada yg lupa aku sebutkan di tulisan ini. Untuk para ibu baru, INGAT, SEMUA HANYA UNTUK SEMENTARA, TIDAK ADA YANG SELAMANYA. Nikmati masa hamilmu, masa kamu menggendong dan menyusui bayimu, karena waktu berjalan begitu cepat! Saat ini memang terasa lelah dan berat, tapi lihatlah wajah anakmu, mereka sangat membutuhkanmu. Menjadi ibu sungguh tak ternilai harganya, merupakan hadiah terindah untukku, dianugerahi seorang anak yg sehat, aktif, dan pintar. Semoga aku bisa merawat dan mendidiknya dengan baik, sehingga dia menjadi orang yg baik dan sukses di masa depan...

Jumat, 02 Oktober 2020

Bayiku Tidur di Kamar Sendiri

Sejak anakku masih di dalam perut, aku memang berniat banget melatih dia untuk tidur sendiri setelah dia lahir. Kamar dan kasur udah disiapin semua. Tapi akhir-akhir ini aku baru sadar, ternyata kok setelah baca berbagai forum, khususnya di Indonesia ini budayanya adalah bayi tidur bersama orang tua. Ada juga yg bilang kesannya kejam amat bayi dibiarin tidur sendiri. Aku kaget sih, aku sampe sempet bertanya-tanya apa selama ini aku salah?

Tentu saja aku memutuskan untuk melatih anakku tidur sendiri itu ada pertimbangannya ya. Alasan paling utama adalah berdasarkan pengalamanku sendiri. Dari kecil sampai mau lulus SMP, aku tidur bareng di satu kamar besar sama mami dan adek-adekku. Begitu udah mau SMA, aku harus banyak ngelembur belajar kan. Kadang abis belajar mau langsung tidur aja gitu. Udah gitu rasanya tuh gak tenang tidur rame-rame gitu, ada aja yg bikin suara (ngorok, bolak-balik badan di tempat tidur, dsb). Akhirnya aku minta kamar sendiri dan tebak apa yg terjadi? Aku ketakutan. Ya mungkin kalo abis nonton horror bisa karena itu juga. Tapi seringnya tuh ketakutan karena gak biasa tidur sendiri. Mau merem kayak ada sesuatu yg hilang. Gimana ya, susah jelasinnya. Baru setelah beberapa minggu, akhirnya aku bisa adaptasi dan bisa tidur. Itu aja harus pake lampu terang, gak bisa lampu oren juga apalagi gelap.

Itulah kenapa aku mau biasain anakku tidur sendiri. Tapi sampai sekarang sih di Amerika Serikat ya contohnya, sepertinya masih ada pro-kontra juga. Ada penelitian yg mengatakan bahwa bayi tidur bersama orang tua bisa menghindarkan bayi dari SIDS alias kematian mendadak pada bayi. Tapi sekarang ada penelitian terbaru juga yg berkata bahwa bayi yg tidur bersama orang tua itu tidurnya lebih pendek dan sebenernya gak aman karena banyak objek di kasur yg bisa berbahaya untuk bayi seperti bantal, guling, selimut, atau bahkan bisa juga orang tua secara gak sadar menimpa anaknya yg sedang tidur!

Aku akan bandingkan hasil penelitian di atas tadi dengan pengalamanku sendiri ya: 

1. Tidur sendiri, bangunnya lebih lama: betul. Tapi kalo gak ada halangan seperti sedang tumbuh gigi ya. Di umur 1 tahun tidur jam 9 malam, bangun jam 6 pagi, paling bangun satu kali. Dikasi ASI abis itu tidur lagi. Kalo sedang tumbuh gigi, bisa bangun beberapa kali. Sebisa mungkin kalo dia udah tidur lagi, langsung tinggal aja. Kadang capek banget bolak balik, tapi itu satu-satunya cara supaya dia nantinya bisa tidur sendiri.

2. Tidur sendiri, kalo bangun lebih gampang balik tidur lagi: betul. Seperti yg aku bilang di atas ya, kalo bangun aku kasi ASI. Abis itu dia tidur lagi.

3. Tidur sendiri, jadwal tidur selalu sama: betul. Gak ada tuh melek sampe pagi, gak tidur tidur. Siang juga kalo udah jamnya anakku pasti istirahat tidur. Aku kadang lihat story instagram orang lain yg anaknya seumuran anakku, jam 12 pagi belum tidur. Setelah aku lihat ya memang ternyata dia tidurnya bareng orang tua.

Selalu lihat dari kondisi bayi masing-masing ya... Anakku dibiarkan tidur sendiri karena untungnya dia bayi yg sehat. Lahir secara alami di umur kehamilan 9 bulan dan tidak ada masalah pernapasan ataupun yg lainnya. Sampai dia umur 1 tahun, aku gak pernah sampai harus bangunin dia untuk ASI. Awal awal memang capek banget, baru di umur 2.5 bulan akhirnya anakku bisa ditinggal tidur sendiri di kamarnya. Sebelumnya aku harus selalu gendong dia sambil duduk di sofa samping tempat tidurnya supaya dia tidur. Mau gimanapun aku tetep usahain supaya dia selalu berada di kamarnya sendiri waktu tidur, supaya terbiasa dengan lingkungan tidurnya. Aku sama suami tidur di kamar sebelah dia ya, bener bener sebelahan banget. Jadi kalo dia nangis bisa langsung denger (kebetulan aku juga orangnya gampang banget bangun kalo ada suara). 

Kesimpulannya, aku rasa gak ada yg salah. Ada orang tua yg mau tidur bareng anaknya, selagi masih kecil mau manfaatkan waktu bersama. Kapan lagi bisa tidur rame-rame ya kan. Kalo anak udah gede pasti gak akan mau. Saya beda lagi ya pendapatnya, saya harus bisa dapet tidur yg baik kualitasnya. Saya urus bayi saya sendiri, gak ada nanny/babysitter, gak ada asisten rumah tangga. Jadi setelah seharian lelah mengurus anak, malamnya saya harus istirahat yg cukup juga. Caranya adalah dengan membiarkan anak tidur sendiri. Menurut saya itu tidak kejam dan ada baiknya juga bagi orang tua maupun anak. 

Oke kayanya segitu dulu ya, ntar lanjut lagi kapan-kapan hehehee

Rabu, 23 September 2020

Beberapa bulan lagi nambah umur, selama ini udah ngapain aja sih?

Entah kenapa kemarin ini mikirin banyak hal sampe pusing sendiri. Salah satunya mikirin bahwa sebentar lagi aku udah mau umur 28 tahun, aku udah ngapain aja sih? Udah berbuat apa aja untuk orang lain?

Jujur aja sebelum ketemu suamiku, hidupku rasanya kaya nggak beraturan dan nggak berarah banget. Nggak tau mau jadi apa, nggak tau maunya apa. Hidup di keluarga yg berantakan juga sangat tidak membantu. Dibohongi, sakit hati, berjuang tapi tanpa hasil, toxic relationship, depresi, dan masih banyak lagi yg lain. Aku udah mengalami itu semua. Bukannya nggak bersyukur ya, banyak juga hal baik yg terjadi dalam hidupku. Aku bisa bernapas, berjalan, berbicara, melihat, mendengar, punya badan sehat, ada tempat tinggal, aku sangat bersyukur akan hal itu.

Kalo ditanya udah ngapain aja, mungkin jawabannya sedang mencari tujuan hidup kali ya. Kedengerannya berlebihan alias lebai, tapi emang bener begitu. Setelah lulus SMA aku rasanya seperti tersesat sekali. Baru 4 tahun terakhir ini, aku merasa akhirnya aku punya tujuan. Jangan dibandingkan ya, tiap orang beda-beda. Aku ketemu sama suamiku, yg percaya bahwa aku mampu melakukan apa saja. Nggak pernah sekalipun dia menganggap bahwa aku nggak mampu mewujudkan mimpiku. Dia selalu dengerin aku dan berusaha untuk kasih aku yg terbaik. 

Pertanyaan yg kedua, udah berbuat apa aja untuk orang lain? Jujur belum banyak. Selama ini terlalu sibuk dengan kehidupan, sampai lupa berbuat sesuatu untuk orang lain. Ini akan menjadi tujuan hidupku selanjutnya dan semoga bisa cepat diwujudkan, entah seperti apa bentuknya nanti.

Dan yg paling penting dari semuanya, aku bersyukur banget bisa dikasi anak yg sehat dan pintar. Masih perjuangan banget untuk menjadi orang tua, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi ibu yg baik bagi anakku. Menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Selain itu... Sebenernya aku suka banget nulis tentang pengalaman hidupku. Blog ini tuh udah aku punya dari tahun 2008 loh. Menjawab pertanyaan yg tadi "udah ngapain aja?", udah banyak pengalaman hidup yg aku tulis. Tapi mulai sekarang, aku putusin sementara ini aku ngga pingin mempublikasikan tulisan-tulisanku yg dahulu karena aku mau bergerak ke depan. Terus terang aja aku masih dalam proses untuk menerima masa laluku yg sudah terjadi. Aku mau mulai halaman yg baru. Doakan aku ya. Semoga seterusnya aku bisa konsisten menulis di blog ini dan aku sangat berharap semoga tulisanku bisa bermanfaat untuk orang lain.

Minggu, 05 Mei 2019

Surat Untuk Papi

Dear Papi,

baru sekarang aku sanggup menulis ini untuk Papi. Tepat satu bulan yang lalu Papi pergi. Ya, aku tahu, aku pakai kata "pergi". Selain karena aku benci kata "meninggal", aku berharap kemanapun Papi "pergi", aku masih bisa bertemu Papi suatu saat nanti. Dimanapun Papi berada sekarang, aku benar-benar berharap Papi sudah tenang dan bahagia.


Setelah Papi pergi, entah kenapa aku berusaha mengumpulkan memori-memoriku waktu Papi masih disini. Memori yang bahagia. Terutama ketika dulu Papi ajak aku ke Bali, kita berlima satu keluarga menikmati indahnya matahari terbit di pantai Sanur. Betapa waktu cepat berlalu ya Pi...


Aku minta maaf ya Pi, sewaktu Papi disini mungkin aku terlalu keras terhadap Papi. Jujur saja aku kecewa dan masih belum mengerti kenapa Papi melakukan apa yang sudah Papi lakukan. Begitu juga terhadap Mami, aku masih tidak habis pikir kenapa Mami melakukan apa yang sudah Mami lakukan. Saat itu, semuanya terasa tidak berfungsi di rumah. Hancur. Berantakan. Hati rasanya marah. Sedih. Kecewa.


Tapi tanggal 7 Mei lalu, aku melahirkan seorang anak. Aku juga sedih sekali, Papi belum sempat bertemu dengan anakku Maverick. Setelah kehadiran Maverick, aku melihat semuanya dari sisi yang berbeda. Papi dan Mami, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, hanya berusaha untuk membangun dan membina sebuah keluarga. Papi dan Mami mungkin memang tidak tahu bagaimana cara yang benar. Tidak ada keluarga yang sempurna.


Terima kasih ya Pi, untuk semua yang sudah Papi berikan untukku dan keluarga. Sewaktu aku bongkar barang Papi, ada catatan Papi. Melihat tulisan tangan Papi saja masih sedih sekali rasanya. Begitu banyak yang sudah Papi rencanakan untuk keluarga Papi, terutama untuk anak-anak. Terima kasih Papi selalu merayakan hari lahirku. Terima kasih sudah memberi bekal berbagai ilmu, yang tidak semua anak bisa dapatkan. Terima kasih Papi sudah bawa aku ke tempat-tempat yang menyenangkan dan indah, yang sekali lagi tidak semua anak bisa dapatkan. Sebagai anak, aku termasuk yang beruntung, bisa punya Papi selama 26 tahun. Aku tahu, Papi hanya berusaha supaya keluarga bisa senang dan bahagia.


Dibalik kebahagiaan, pasti ada cobaan. Semua masalah kehidupan yang Papi hadapi, sepertinya sudah menumpuk di ujung hidup Papi. Maka dari itu Papi sakit, dan aku masih tidak habis pikir juga kenapa Papi tidak pernah mengeluh sakit. Papi juga tidak pernah menceritakan kesulitan maupun masalah yang Papi hadapi. Sampai akhirnya Papi kewalahan, kemudian Papi sakit parah. Aku sedih sekali melihat Papi dibawa dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Selain itu harus operasi berat di umur yang sudah tua. Maaf ya Pi, Papi harus melalui itu semua di penghujung hidup Papi.


Kalau aku bisa mengulang waktu, aku berharap aku bisa ngobrol yang lama sama Papi. Aku menyesal, aku tidak terlalu tahu kehidupan Papi seperti apa sebelum bertemu Mami. Aku tidak terlalu tahu apa yang sudah Papi alami sebelumnya, peristiwa apa yang membentuk karakter diri Papi. Aku juga berharap juga Papi bisa lebih terbuka ke keluarga. Tapi ya sudah, Papi sudah pergi. Semoga aku bisa ambil pelajaran dari hidup yang aku punya dahulu sama Papi, dan pastinya tidak mengulang kesalahan yang sama kepada suamiku dan Maverick.


Sudah dulu ya Pi, Papi yang tenang ya disana. Aku janji, aku akan tulis lagi untuk Papi. Aku tidak akan melupakan Papi.


Aku sayang Papi.


Love,

Ola

Selasa, 23 Januari 2018

Love Yourself

Saya sering banget kesel sama diri sendiri. Terutama kalau ada kejadian yang diakibatkan dari perbuatan saya yang disengaja maupun tidak disengaja. Kemarin seharian nangis gara-gara ini dan waktu saya pun terbuang sia-sia. Bener-bener sulit banget untuk mengabaikan kesalahan diri sendiri dan move on! Dan selalu berujung ke yang namanya self-loathing. 

How does this happen?

Setiap kali saya membuat kesalahan, saya justru jatuh ke dalam lubang gelap yang ngga ada habisnya dimana saya menyalahkan diri sendiri dan berkata,"Kenapa sih gitu aja ngga becus?". Bisanya abis itu cuma nangis dan super kesel sama diri sendiri. Mungkin... saya melakukan hal ini karena saya ngga mau disalahkan atas akibat kesalahan saya sendiri. Mungkin karena saya selalu melihat diri saya bodoh daripada yang lain sehingga saya takut kesalahan kecil dan sepele yang saya perbuat akan membuat diri saya semakin terlihat bodoh. Dan ketika saya sudah tenggelam di dalam lubang gelap itu, saya "bertemu kembali" dengan kegagalan dan flaws di dalam hidup saya. Inilah yang saya sebut tadi dengan self-loathing. "Kenapa sih dulu saya harus mengalami ini?", "Kenapa sih dulu saya harus mengalami itu?", "Kenapa sih cuma saya yang kena sial?", "Kenapa sih saya bikin salah terus menerus?", "Saya benci banget hidup saya. Saya ngga suka dengan keadaan seperti ini.", dan seterusnya dan seterusnya... Hanya itu yang ada di otak saya ketika saya tidak bisa berhenti menangis.

Kadang ketika saya sudah berhenti dari "sesi" menangis saya dan sudah bisa berpikir jernih, 
saya malu sama diri sendiri. Dan saya kasihan sama pacar saya, waktu dia terbuang habis untuk menenangkan diri saya. 

Kalau dilihat lagi, pertanyaan dari otak saya hanya ada kenapa dan selanjutnya tidak ada jawaban yang bisa menyelesaikan masalah saya. Benar-benar sulit untuk keluar dari pikiran saya sendiri dan move on  untuk mencari solusi. Saya harus ingat, bahwa people make mistakes. Setelah membuat kesalahan, harus belajar dari kesalahan tersebut. Jangan malah tenggelam di dalamnya. Harus temukan bagaimana caranya supaya kesalahan tersebut tidak terulang lagi di masa depan. Kata pacar saya: Jangan kesel-kesel sama diri sendiri, kesel ngga berguna dan yang ada cuma bikin capek...

Untuk self-loathing, coba belajar sayangi diri sendiri. Bangun dirimu supaya berdiri tegak. Jangan jatuhkan diri sendiri. Hargai yang sudah kamu capai. Tidak berarti kamu mudah puas dengan dirimu, hargai usahamu dan teruslah cari tantangan-tantangan selanjutnya.

Saya sadar, saya menulis ini sebenarnya untuk menasihati diri sendiri. Percuma saya menulis panjang lebar kalau tidak saya lakukan di kehidupan nyata. Intinya kita semua harus selalu ingat: don't be too hard to yourself and how precious our life is. Kedengerannya cliché, tapi yang cliché  terlalu sering benar adanya. Lihat sekitar, lihat betapa banyak yang peduli sama kamu. Orang tua, keluarga, kekasih, sahabat, teman yang menyayangi kamu. 

Banyak yang lebih susah hidupnya daripada kamu, tapi bisa lebih bahagia daripada kamu.

BE HAPPY. BE GRATEFUL. LOVE YOURSELF. :)

Minggu, 22 Juni 2014

Think before you post.

Aku inget banget waktu jaman SMP sampe SMA, pertama kalinya punya Friendster, Facebook, dan Twitter, aku seneng banget bacain status orang-orang. Dunia kayanya kebuka luas banget. Dari yg ngepost jokes, sampe promosi sesuatu, bikin video, punya blog sendiri, punya toko online, share photo sewaktu liburan, foto yg barusan nikah, semuanya ada.

Sampe suatu saat aku baca, ada seseorang yg aku follow di salah satu jejaring sosial ini, marah-marah. Aku cuma bisa asumsi dia marah, karena banyak tanda serunya. Kata-katanya juga nggak enak buat dibaca. Caps lock on. Keesokan harinya, aku udah lupa tentang post itu. Eh beberapa saat setelah scrolling down, tiba tiba muncul lagi dia. Kali ini dia posting nggak ada tanda seru, tapi kata-katanya juga masih nggak enak. Oh well aku asumsi dia lagi menyindir orang.


Terus terang aku dulu sempet ketularan orang ini. Kalau ada masalah sama seseorang bukannya diomongin, tapi malah pasang status di jejaring sosial. Ngomong sesuatu yg kasar. Bisanya menyindir, bisanya pasang status yg "vague" (samar-samar, nggak jelas, ambigu), yg sebenernya nggak menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah.


Makin tambah umur, makin malu sendiri inget kelakuan diri sendiri dulu kaya gitu. Aku pikir sekarang aku umurnya udah tambah banyak, udah bukan anak SMA lagi. Bukan saatnya lagi menyindir orang lewat jejaring sosial. Bukan saatnya lagi marah-marah tentang masalah pribadi di jejaring sosial.


Tapi sayangnya akhir-akhir ini aku masih liat banyak banget dari kita, yg seharusnya sudah bisa bersikap dewasa, masih posting sesuatu yg "vague" tentang orang lain. Entah mengkritik atau mengeluh, menyindir, baik menyebutkan siapa orang yg dimaksud ataupun tanpa benar-benar menyebutkan siapa orang yg dimaksud. Maaf kalau aku pakai kata "vague" terus, karena itu hanya satu-satunya kata yg paling tepat untuk mewakili apa yg aku mau katakan.


It's driving me crazy. Kalian tau kenapa? Karena rasanya sakit hati kalau aku mengenali bahwa post itu tentang aku atau salah satu temanku. Aku bisa respon apa kalo kaya begitu? Dan lebih parah lagi kalau orang-orang mulai bertanya-tanya di jejaring sosial tersebut karena post itu "vague". Nggak tau itu sebenernya tentang siapa. Kalaupun disebut itu siapa, kenapa nggak diomongin sendiri langsung ke orangnya? Ngapain harus di muka umum bahasnya? Ini salah satu alasan kenapa aku berhenti melakukan posting ambigu seperti itu, it sucks and it's hurtful.


Aku ngerti masing-masing punya hak buat ngepost status apa aja, itu account punya kita pribadi masing-masing. Tapi ayolah kita pikir lagi. Buat apa sih posting yg negatif kaya gitu? Apa sih untungnya nyindir orang secara terbuka di depan publik? Kenapa harus menambah drama dan masalah?


Jujur aku sedih ngeliatnya. Sedih ngeliat orang berantem di Facebook, nyindir orang di Path, ngomong kasar di Twitter. See, jejaring sosial ini bukan tempatnya buat berantem, nyindir, atau ngomong kasar.


Ada masalah sama temen? Pingin kritik seseorang? Pingin mengeluh? Pilihannya cuma dua, omongin langsung sama orangnya atau simpen sendiri sekalian.


Dari aku sendiri, aku punya bantuan untuk mengontrol, mana yg pantas aku post, mana yg nggak. Mungkin pertanyaan berikut bisa bantu kalian juga:


1. Perlu nggak sih kalimat ini buat dikatakan?

2. Ada konsekuensinya nggak kalo aku post ini?
3. Apa sih motivasiku buat post ini?
4. Kalau aku face-to-face sama orangnya, pantes nggak aku ngomong ini ke dia?

Ada juga phrase terkenal tentang ini:


1. Is it true?

2. Is it helpful?
3. Is it inspiring?
4. Is it necessary?
5. Is it kind?

Contoh, aku suka post suatu tempat atau makanan. Karena itu indah. Jarang ada yg nggak suka pemandangan indah, jarang ada yg nggak suka sama makanan. Aku juga bisa kasih saran dimana tempat makan enak ini, dimana tempat liburan yg bagus. Intinya tulis sesuatu yg positif. Punya jokes? Ga ada ruginya bikin orang ketawa. Abis graduation? Pasang status. Abis nikah? Share kebahagiaannya. Lagi liburan? Share fotonya. Lagi olahraga? Post juga, biar yg lain ikut termotivasi buat olahraga. Kasih suggestion buku atau film yg bagus misalnya. Tuh, banyak kan yg sebenernya bisa di post tanpa menyakiti perasaan seseorang?


Nobody is perfect. Aku nggak sempurna. Banyak hal yg belum aku ngerti, tapi paling nggak aku ngerti sekarang bahwa nyindir orang, marah-marah, ngomong kasar dsb di jejaring sosial itu nggak pantes. Aku cuma pingin semua yg baca ini bisa mempertimbangkan sedikit tentang apa yg aku tulis tadi. Lebih mantep lagi kalau diaplikasikan beneran. Mari tumbuh dewasa bersama, saling kasih tau ga ada ruginya.


"If I would't say it to your face, I won't say it online at all." -Anonymous

Minggu, 31 Maret 2013

Another Possibility

Kita semua pasti pernah pingiiiiin BANGET dapetin sesuatu. Entah itu pingin barang tertentu, atau pingin masuk sekolah A, sekolah B, atau bahkan pingin pacarin si C, pacarin si D atau bahkan pacarin si E. 

"Pokoknya kalo aku mau sekolah disini aku harus dapetin sekolah disini gimanapun caranya ga mau tau pokoknya ga mau sekolah disana dan disitu!"

Let's just say, that was me couple years ago. I know I know, it's so immature, I know -_-

Dulu kalo aku ngga bisa dapet apa yang aku pingin, aku bisa marah banget. Cari sesuatu buat disalahin.  Ngeluh dan marah ke Tuhan. Aku bisa sampe stress banget dan yang ada di otakku cuma KENAPA. Kenapa sih Tuhan kok aku nggak bisa dapet ini? Kenapa sih Tuhan kok aku ngga sekeren dia? Kenapa sih Tuhan kok aku ngga bisa punya yang dia punya? Kenapa Tuhan kenapaaaaa????? Aduh, intinya dulu aku bisa jadi super dramatis banget deh kalo aku ngga dapet apa yang aku pingin.


Terlalu pingin sesuatu bisa bikin bikin kita keras kepala, bisa bikin kita buta. Buta sama kemungkinan kemungkinan yang ada lainnya. Kemungkinan lain yang bahkan bisa bawa kita ke jalan yang lebih baik. Kita nggak pernah tau kan, barangkali di kemungkinan yang lain ini ada sesuatu "besar" menanti kita. Kesempatan yang mungkin ga bisa kita dapet kalo kita memaksa buat stay di jalan yang nggak seharusnya kita jalani. You know what people say, if one door closes the another door opens.


Aku rasa quote itu bener adanya. Aku udah ngalamin ini sampe beberapa kali dan baru sadar apa maksud Tuhan (or whatever you believe in, I believe in God by the way), setelah hidup di Jerman ini. Disini mata dan hati aku baru bener bener kebuka. Aku sadar, bahwa:


yang aku pingin kadang memang bukan yang terbaik buat aku. 

Kadang yang aku pingin itu bukan yang aku butuhin, 
dan kadang yang aku pingin itu bukan jalan yang udah di rencanain Tuhan buat aku.

Setelah berjalannya waktu (dan butuh waktu yang ngga sebentar tentunya), semakin aku bertambah umur, semakin sadar bahwa kalo aku marah  dan stress out buat hal yang nggak bisa aku kontrol, itu bener bener nggak baik buat diriku sendiri. Nggak sehat, nggak bagus. Manusia selalu boleh punya rencana dan cita cita, tapi semua tetep Tuhan yang atur. Sekarang aku cuma bisa percaya, bahwa jalanku udah dibuatin sama Tuhan sedemikian rupa dan itu adalah yang terbaik buat aku.


Aku sebagai manusia nggak bisa figure out langsung mana jalan yang bener buatku. Semuanya butuh waktu dan kaya yang aku bilang tadi aku butuh waktu yang nggak sebentar buat ambil pelajaran dari semuanya. Ini ngga mudah pastinya, tapi aku percaya  pelan pelan Tuhan pasti guide aku buat nemuin jalanku itu.


Motoku tetep satu: kalo aku pingin sesuatu, aku tetep harus kerja keras buat ngedapetin itu. Harus sabar. TAPI, aku harus siap kalo aku ngadepin the worst case. Ngga boleh buta sama kemungkinan lain. Ngga boleh terpuruk dan ngga boleh stress out. Everything has its own time and it's not the end of the world!


Do you agree with me guys? If not, why? Comment and share are welcome! ;)

Minggu, 18 Januari 2009

Pelajaran Hidup

Ada yg bilang,
pelajaran paling susah itu pelajaran hidup.
Kita nggak pernah dikasi tau bahannya,
ga pernah diajarin gimana caranya,
tapi ujian nggak ada habisnya.

Aku berusaha nyenengin orang lain,
berusaha buat orang lain bahagia,
tapi aku sendiri ga bahagia.
Dan itu pasti nyadarnya juga telat.

Aku berusaha buat nolong,
tapi ada aja alasan kalo pertolonganku itu ga sesuai,
dan pertolongan maupun omonganku,
kayak angin lewat aja dan nggak dianggep.

Aku berusaha memberikan yang terbaik,
dan mendengarkan orang lain,
dan terkadang yg diberi itu ga pernah puas
atas semua usahaku,

dan bahkan tak pernah mendengarku.

Aku berusaha membantu semaksimal mungkin,
nggak pernah aku mengharap imbalan.
Tapi yang ada hinaan.

Aku berusaha mengungkapkan apa yang aku rasain,
yg ada malah dihakimi.
padahal buatku itu merupakan suatu keajaiban aku bisa
mengungkapkan apa yang aku rasain.
Karena aku nggak pernah bisa ngungkapin apa yang di pikiranku
maupun di perasaanku.

Mungkin itu baru beberapa dari soal pelajaran hidup yang nggak ada habisnya.

Bukannya curhat atau apa,
bukannya aku sok bijak terus nulis kayak gini,
bukannya aku ngerti semua tentang hidup,
ak ga tau apa-apa,
bener-bener ak ga tau apa-apa masalah hidup.
umurku bahkan nggak cukup (baca: sangat tidak cukup)
untuk mengerti pengalaman hidup.
Jarang-jarang aku bisa nulis kayak gini,
Jarang-jarang banget aku bisa cerita kayak gini.

Di bulan ulang tahunku ini aku cuma bisa berdoa:
bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat ini aku cuma bisa berharap:
aku bisa melaluinya dengan hati yang besar.
Saat ini aku cuma bisa berusaha:
mendengarkan orang lain.
Saat ini aku cuma bisa:
mengingat kata temanku yang sangat berarti buatku
"It's gonna be alright..."

Minggu, 16 November 2008

My New Blog

Hi guys, welcome to my new blog. Aku suka nulis. Terutama menulis tentang apa aja yang aku alami, tempat atau kota yang aku kunjungi, pengalaman berhargaku, dan masih banyak yang lainnya. Mungkin memang bukan menjadi karir, tapi cuma jadi hobi. Jujur aja aku juga nggak terlalu peduli ada yang baca atau nggak, yang penting hatiku lega karena sudah bisa berbagi tentang hidupku melalui tulisan. Ya, se-lebai itu perasaanku terhadap menulis. Kelegaan, mengisi sesuatu di hatiku yang setiap saat rasanya kosong.

Ya sudah, siapapun kamu yang mau membaca, terima kasih banyak aku sampaikan. Bagi blogmu ya. Aku juga seneng kalau lihat blog yang aktif dan penuh dengan pengalaman hidup masing-masing. Oh iya, mungkin nanti di tulisanku banyak istilah bahasa Inggris ataupun kalimat berbahasa Inggris. Contohnya saja judul tulisan ini. Terkadang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia terdengar kurang tepat. Selain itu otakku belum canggih dalam menerjemahkan yang ada di pikiranku, karena kadang banyak situasi tertentu hanya bisa diungkapkan dengan tepat dan benar dalam bahasa Inggris di otakku. Aku harap kalian tidak keberatan hehe. Tunggu tulisanku selanjutnya ya! Arrivederci!