Dear Papi,
baru sekarang aku sanggup menulis ini untuk Papi. Tepat satu bulan yang lalu Papi pergi. Ya, aku tahu, aku pakai kata "pergi". Selain karena aku benci kata "meninggal", aku berharap kemanapun Papi "pergi", aku masih bisa bertemu Papi suatu saat nanti. Dimanapun Papi berada sekarang, aku benar-benar berharap Papi sudah tenang dan bahagia.
Setelah Papi pergi, entah kenapa aku berusaha mengumpulkan memori-memoriku waktu Papi masih disini. Memori yang bahagia. Terutama ketika dulu Papi ajak aku ke Bali, kita berlima satu keluarga menikmati indahnya matahari terbit di pantai Sanur. Betapa waktu cepat berlalu ya Pi...
Aku minta maaf ya Pi, sewaktu Papi disini mungkin aku terlalu keras terhadap Papi. Jujur saja aku kecewa dan masih belum mengerti kenapa Papi melakukan apa yang sudah Papi lakukan. Begitu juga terhadap Mami, aku masih tidak habis pikir kenapa Mami melakukan apa yang sudah Mami lakukan. Saat itu, semuanya terasa tidak berfungsi di rumah. Hancur. Berantakan. Hati rasanya marah. Sedih. Kecewa.
Tapi tanggal 7 Mei lalu, aku melahirkan seorang anak. Aku juga sedih sekali, Papi belum sempat bertemu dengan anakku Maverick. Setelah kehadiran Maverick, aku melihat semuanya dari sisi yang berbeda. Papi dan Mami, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, hanya berusaha untuk membangun dan membina sebuah keluarga. Papi dan Mami mungkin memang tidak tahu bagaimana cara yang benar. Tidak ada keluarga yang sempurna.
Terima kasih ya Pi, untuk semua yang sudah Papi berikan untukku dan keluarga. Sewaktu aku bongkar barang Papi, ada catatan Papi. Melihat tulisan tangan Papi saja masih sedih sekali rasanya. Begitu banyak yang sudah Papi rencanakan untuk keluarga Papi, terutama untuk anak-anak. Terima kasih Papi selalu merayakan hari lahirku. Terima kasih sudah memberi bekal berbagai ilmu, yang tidak semua anak bisa dapatkan. Terima kasih Papi sudah bawa aku ke tempat-tempat yang menyenangkan dan indah, yang sekali lagi tidak semua anak bisa dapatkan. Sebagai anak, aku termasuk yang beruntung, bisa punya Papi selama 26 tahun. Aku tahu, Papi hanya berusaha supaya keluarga bisa senang dan bahagia.
Dibalik kebahagiaan, pasti ada cobaan. Semua masalah kehidupan yang Papi hadapi, sepertinya sudah menumpuk di ujung hidup Papi. Maka dari itu Papi sakit, dan aku masih tidak habis pikir juga kenapa Papi tidak pernah mengeluh sakit. Papi juga tidak pernah menceritakan kesulitan maupun masalah yang Papi hadapi. Sampai akhirnya Papi kewalahan, kemudian Papi sakit parah. Aku sedih sekali melihat Papi dibawa dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Selain itu harus operasi berat di umur yang sudah tua. Maaf ya Pi, Papi harus melalui itu semua di penghujung hidup Papi.
Kalau aku bisa mengulang waktu, aku berharap aku bisa ngobrol yang lama sama Papi. Aku menyesal, aku tidak terlalu tahu kehidupan Papi seperti apa sebelum bertemu Mami. Aku tidak terlalu tahu apa yang sudah Papi alami sebelumnya, peristiwa apa yang membentuk karakter diri Papi. Aku juga berharap juga Papi bisa lebih terbuka ke keluarga. Tapi ya sudah, Papi sudah pergi. Semoga aku bisa ambil pelajaran dari hidup yang aku punya dahulu sama Papi, dan pastinya tidak mengulang kesalahan yang sama kepada suamiku dan Maverick.
Sudah dulu ya Pi, Papi yang tenang ya disana. Aku janji, aku akan tulis lagi untuk Papi. Aku tidak akan melupakan Papi.
Aku sayang Papi.
Love,
Ola
Tidak ada komentar:
Posting Komentar