Sabtu, 02 Januari 2021

Kilas Balik ke 2020 dan Harapan untuk 2021

Tahun lalu sepertinya menjadi tamparan keras bagi banyak orang di seluruh dunia ya? Siapa lagi kalau bukan karena Corona. Untuk yang di Jakarta dan sekitarnya, bulan Januari diawali dengan banjir besar. Sungguh melelahkan ketika rumah di terjang banjir sebanyak empat kali. Sudah dibersihkan, kemudian banjir lagi. Lumpur dimana-mana, banyak barang terendam air. Hatiku kesal sekali ketika melihatnya. Tetapi aku masih beruntung karena sejak punya anak, kami sekeluarga sudah pindah ke tempat tinggal lain. Hanya barang-barang di rumah lama saja yang hancur.

Kemudian muncul berita merebaknya virus di kota Wuhan. Sejak bulan Januari, aku sudah mulai waspada. Pernikahan teman baikku pada bulan Februari pun aku terpaksa tidak hadiri, karena aku ada bayi yang harus kujaga betul betul kesehatannya. Terekam dengan sangat baik di ingatanku, pemerintah mengklaim di media bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus di Indonesia. Skeptis aku dibuatnya. Sangat, sangat skeptis. Tidak mungkin, pikirku. Tidak mungkin bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus Corona di Indonesia ini, selagi penerbangan internasional masih berjalan dan dibuka bebas. Itulah alasanku kenapa aku juga sudah mengurung diriku dan si bayi di rumah sejak bulan Februari, dimana pemerintah akhirnya mengumumkan pasien Corona pertama pada bulan Maret. 

Setelahnya kita semua tahu apa yang terjadi. Pembatasan pergerakan masyarakat pun diberlakukan, dan semua yang bisa tinggal di rumah, harus tetap di rumah. Banyak orang yang tadinya berangkat kerja setiap hari, kini harus bekerja dari rumah. Anak-anak hanya bisa menatap gurunya lewat komputer. Sakit hatiku juga pada masa awal virus Corona terjadi, bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang meremehkan. Ada pula yang tersinggung ketika aku mengatakan kepada mereka untuk jangan bertemu dulu. Ada pula yang tidak mengindahkan kata-kataku ketika aku menyarankan mereka untuk tidak bepergian keluar kota terlebih dahulu. Ya sudah, aku tidak ingin menyimpan perasaan negatif apapun, yang terjadi sudah terjadi.

Sekali lagi aku sangat beruntung. Sungguh masih termasuk yang sangat beruntung. Aku dan suami mengelola usaha sendiri. Karena pandemi, bayi kuajak ke kantor hanya tiga kali dalam satu minggu. Sisanya suami berangkat sendiri kesana. Kami beruntung karena kami tidak bekerja di sebuah perusahaan lain dan otomatis kami tidak perlu mengikuti aturan orang lain. Kami bisa sesuaikan waktu, karena memang agak rumit sekarang situasinya ketika ada bayi tanpa asisten ataupun "nanny". Di saat pandemi pun kami sangat bersyukur karena ada proyek kerja. Toko online pun masih berjalan. Lelah, stress, tentu saja pasti ada kalau bekerja keras. Tapi berkat yang kami terima, sungguh jauh melebihi rasa lelah kami. Sampai detik ini pun kami juga masih diberi kesehatan, sungguh anugerah yang luar biasa.

Pengalaman paling berharga untukku di 2020 mungkin adalah menjadi orang tua. Melihat perkembangan bayiku yang begitu luar biasa, diberi anak yang pintar dan sehat dan aku belajar menjadi orang tua. Tentu saja ada momen dimana aku terjatuh, menangis, tertekan, tapi kemudian aku bisa bangkit lagi. Kadang terasa sangat sulit untukku beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai ibu, tapi perlahan aku bisa menikmatinya. Aku bahkan berhasil membuatkan anakku mainan kayu dengan desainku sendiri. Aku ikut diskusi buku "parenting" dengan ibu-ibu lain. Dan yang paling penting, aku bisa menikmati waktu dengan anakku.    

Halo 2021, aku tahu kehidupan manusia tak akan pernah mudah. Untuk mengharapkan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan, pasti dibutuhkan juga kerja keras yang tiada habisnya. Aku tahu pasti akan banyak waktu dimana aku merasa lelah, hampir menyerah, dan tertekan. Tapi aku tidak akan kalah dengan itu semua. Semoga: kami sekeluarga dan kita semua tentunya, diberi kesehatan, diberi rejeki yang melimpah, diberi kebahagian serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar: