Senin, 18 Januari 2021

Pertemuan Pertama REA Masterclass

REGGIO EMILIA APPROACH (REA)

Hari Sabtu tanggal 16 Januari 2021 kemarin adalah pertemuan pertama kami di REA Masterclass yg difasilitasi oleh Early Childhood Educator Ms. Krista Endinda dan dipimpin oleh Pedagogical Consultant Ms. Ambra Lanzi. Lebih dari 150 peserta mengikuti kelas ini dan 80% persen darinya adalah orang tua, sisanya guru/tenaga pendidik. Aku merasa bangga melihat para peserta yang sangat antusias mengikuti kelas ini, karena ini artinya pelan-pelan masyarakat Indonesia mulai meletakkan perhatian yang lebih terhadap metode pengasuhan anak.

Reggio Emilia sendiri adalah nama kota kecil di negara Itali bagian utara. Singkat cerita, penduduk di kota itu ingin bangkit kembali setelah penderitaan Perang Dunia ke II. Salah satu caranya adalah dengan membangun sekolah untuk anak-anak yang pada saat itu juga mendapat dukungan besar dari para orang tua dan komunitas sekitar. Dari situ muncul Loris Malaguzzi, seorang tokoh penting di dalam dunia REA. Ia membangun sekolah untuk pendidikan anak usia dini, berkolaborasi dengan para pengajar di RE, dan mengembangkan teori REA yang menjadikan anak sebagai tokoh utama dalam proses pembelajaran serta menganut metode konstruktivis. REA bukan hanya filosofi pendidikan, tetapi juga filosofi kehidupan.. Sebagai orang tua, aku juga harus memberi contoh yang baik dan sungguh-sungguh mempraktekkan REA dalam kehidupan sehari-hari

IMAGE OF CHILD

REA percaya bahwa anak memiliki citra yang kuat, memiliki banyak potensi, kompeten, dan yang paling utama adalah mereka terhubung dengan orang dewasa maupun anak-anak lainnya. Mereka memiliki kesetaraan dan hak yang sama seperti layaknya orang dewasa. Proses pembelajaran lebih diutamakan dan dihargai daripada hanya hasil akhirnya. Selain itu, proses pembelajaran mereka terjadi dari kolaborasi yang baik antara orang tua, guru, lingkungan dan temannya di sekolah. Inilah yang membuatku ingin mengetahui REA secara lebih dalam lagi, karena selama ini aku merasa banyak sekali orang tua di Indonesia yang hanya mengandalkan guru dan tidak terlibat langsung di kehidupan pendidikan anak mereka. 

Orang tua seringkali memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap anak. Anak diharapkan belajar baca tulis dan hitung sebelum waktunya. Seolah semuanya bagaikan kompetisi dengan anak orang lain yang berujung memberi tekanan buruk terhadap anak. REA percaya bahwa yang paling penting dalam mendidik anak adalah bagaimana memberikan stimulasi yang baik sehingga anak bisa belajar dengan senang hati, tanpa beban, dan sesuai dengan kemampuan mereka. Ketika anak memberi pertanyaan,"Mama, kenapa langit warnanya biru?", berikanlah mereka stimulasi dengan memberikan pertanyaan lanjutan,"menurut kamu kenapa?". Apa kamu tahu, jawaban ilmiah yang rumit dari orang tua bisa membuat anak mundur dari rasa ingin tahunya! Jika anak bingung harus menjawab apa, katakanlah,"nanti kita cari tahu bersama-sama ya". Inilah peran orang dewasa dalam REA: menghormati opini dan sudut pandang anak, sebagai pengamat, sebagai teman kerja anak, serta pendengar yang baik!

EMBRACE YOUR CHILD

Di penghujung mendekati akhirnya kelas, ada kata-kata Ms. Ambra yang paling aku ingat dan paling berkesan: jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak lain. Masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda dan istimewa. My child is beautiful as he is! Anak bukan kertas kosong, mereka juga bukan kotak, yang bisa kita isi dengan apapun yang kita mau. Dalam diri anak sudah ada berbagai macam potensi, tugas orang dewasa adalah mengarahkan dan mengeluarkan potensi itu.

Bagaimana menurutmu? Apakah sejalan dengan apa yang kamu pikirkan selama ini? Untukku metode ini sungguh menarik dan bermanfaat untuk dipraktekkan. Semoga ringkasan ini bisa bermanfaat dan mungkin bisa membuatmu lebih ingin mendalami REA. Tak sabar untuk pertemuan kedua besok Sabtu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya...

Sabtu, 02 Januari 2021

Kilas Balik ke 2020 dan Harapan untuk 2021

Tahun lalu sepertinya menjadi tamparan keras bagi banyak orang di seluruh dunia ya? Siapa lagi kalau bukan karena Corona. Untuk yang di Jakarta dan sekitarnya, bulan Januari diawali dengan banjir besar. Sungguh melelahkan ketika rumah di terjang banjir sebanyak empat kali. Sudah dibersihkan, kemudian banjir lagi. Lumpur dimana-mana, banyak barang terendam air. Hatiku kesal sekali ketika melihatnya. Tetapi aku masih beruntung karena sejak punya anak, kami sekeluarga sudah pindah ke tempat tinggal lain. Hanya barang-barang di rumah lama saja yang hancur.

Kemudian muncul berita merebaknya virus di kota Wuhan. Sejak bulan Januari, aku sudah mulai waspada. Pernikahan teman baikku pada bulan Februari pun aku terpaksa tidak hadiri, karena aku ada bayi yang harus kujaga betul betul kesehatannya. Terekam dengan sangat baik di ingatanku, pemerintah mengklaim di media bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus di Indonesia. Skeptis aku dibuatnya. Sangat, sangat skeptis. Tidak mungkin, pikirku. Tidak mungkin bahwa tidak ada orang yang terinfeksi virus Corona di Indonesia ini, selagi penerbangan internasional masih berjalan dan dibuka bebas. Itulah alasanku kenapa aku juga sudah mengurung diriku dan si bayi di rumah sejak bulan Februari, dimana pemerintah akhirnya mengumumkan pasien Corona pertama pada bulan Maret. 

Setelahnya kita semua tahu apa yang terjadi. Pembatasan pergerakan masyarakat pun diberlakukan, dan semua yang bisa tinggal di rumah, harus tetap di rumah. Banyak orang yang tadinya berangkat kerja setiap hari, kini harus bekerja dari rumah. Anak-anak hanya bisa menatap gurunya lewat komputer. Sakit hatiku juga pada masa awal virus Corona terjadi, bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang meremehkan. Ada pula yang tersinggung ketika aku mengatakan kepada mereka untuk jangan bertemu dulu. Ada pula yang tidak mengindahkan kata-kataku ketika aku menyarankan mereka untuk tidak bepergian keluar kota terlebih dahulu. Ya sudah, aku tidak ingin menyimpan perasaan negatif apapun, yang terjadi sudah terjadi.

Sekali lagi aku sangat beruntung. Sungguh masih termasuk yang sangat beruntung. Aku dan suami mengelola usaha sendiri. Karena pandemi, bayi kuajak ke kantor hanya tiga kali dalam satu minggu. Sisanya suami berangkat sendiri kesana. Kami beruntung karena kami tidak bekerja di sebuah perusahaan lain dan otomatis kami tidak perlu mengikuti aturan orang lain. Kami bisa sesuaikan waktu, karena memang agak rumit sekarang situasinya ketika ada bayi tanpa asisten ataupun "nanny". Di saat pandemi pun kami sangat bersyukur karena ada proyek kerja. Toko online pun masih berjalan. Lelah, stress, tentu saja pasti ada kalau bekerja keras. Tapi berkat yang kami terima, sungguh jauh melebihi rasa lelah kami. Sampai detik ini pun kami juga masih diberi kesehatan, sungguh anugerah yang luar biasa.

Pengalaman paling berharga untukku di 2020 mungkin adalah menjadi orang tua. Melihat perkembangan bayiku yang begitu luar biasa, diberi anak yang pintar dan sehat dan aku belajar menjadi orang tua. Tentu saja ada momen dimana aku terjatuh, menangis, tertekan, tapi kemudian aku bisa bangkit lagi. Kadang terasa sangat sulit untukku beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai ibu, tapi perlahan aku bisa menikmatinya. Aku bahkan berhasil membuatkan anakku mainan kayu dengan desainku sendiri. Aku ikut diskusi buku "parenting" dengan ibu-ibu lain. Dan yang paling penting, aku bisa menikmati waktu dengan anakku.    

Halo 2021, aku tahu kehidupan manusia tak akan pernah mudah. Untuk mengharapkan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan, pasti dibutuhkan juga kerja keras yang tiada habisnya. Aku tahu pasti akan banyak waktu dimana aku merasa lelah, hampir menyerah, dan tertekan. Tapi aku tidak akan kalah dengan itu semua. Semoga: kami sekeluarga dan kita semua tentunya, diberi kesehatan, diberi rejeki yang melimpah, diberi kebahagian serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ulasan Singkat Buku The Danish Way of Parenting

Buku terjemahan dari bahasa Inggris yang terdiri dari 180 halaman ini ditulis oleh seorang terapis keluarga Iben Dissing Sandahl, dan Jessica Joelle Alexander, seorang ibu berkewarganegaraan Amerika Serikat yang menikah dengan seorang berkebangsaan Denmark. Mereka berdua percaya, cara orang Denmark mengasuh anaklah yang menjadi faktor utama dari keberhasilan Denmark mendapatkan label sebagai negara yang memiliki penduduk paling bahagia di dunia. Menurut mereka gaya mengasuh anak orang Denmark menghasilkan anak yang tangguh dan stabil secara emosional. 

Selain membahas "default settings" atau pembawaan alami dari orang tua, mereka juga membahas aspek lain yang terdiri dari Play (bermain), Authenticity (originalitas), Reframing (memaknai ulang), Empathy (empati), No Ultimatums (tanpa ultimatum), dan Togetherness (kebersamaan). Jika disingkat menjadi PARENT. Sudut pandang yang sudah disebutkan itulah yang menjadi dasar buku ini. Bab 1 membahas "P", bab 2 membahas "A", dan begitu seterusnya. Tapi disini aku harus jujur, membahas setiap bab dengan mengangkat judul dari inisial singkatan PARENT agak sedikit memaksa. 

Aku menulis ulasan ini setelah diskusi buku kami selesai, karena aku ingin tahu terlebih dahulu secara keseluruhan seperti apa isi buku ini. Ini menurutku: ringan untuk para orang tua baru, sangat menarik dan informatif, dan membuatku sadar akan banyak sekali hal yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan olehku. Tetapi jujur saja, aku merasa hal-hal positif yang ada di dalam buku ini tidak sepenuhnya terikat dengan Denmark itu sendiri. Dalam buku ini, secara tidak langsung Sandahl dan Alexander mengatakan bahwa pembawaan alami orang tua Amerika Serikat bukan selalu menjadi pilihan terbaik dalam mengasuh anak. Ya betul dua negara berbeda ini tentu saja memiliki budaya yang berbeda.

Tetapi para orang tua di Indonesia, Amerika, maupun negara lain pasti sudah ada yang mempraktekkan metode pembawaan alami orang Denmark tersebut tanpa adanya label "cara orang Indonesia" atau "cara orang Amerika". Semua orang tua pasti bertujuan untuk mencari yang terbaik bagi anaknya. Selama itu baik dan bermanfaat, tidak ada yang salah dengan cara orang mendidik anak di negara lain. Poin yang ingin aku sampaikan adalah, aku rasa judulnya akan lebih cocok jika "Danish" dihilangkan. Metode mengasuh anak yang ada di dalam buku ini sudah sangat umum sekali dipraktekkan di berbagai negara. Sekali lagi jangan salah, konten buku ini luar biasa, sangat layak dan patut dipraktekkan di dalam keluarga. Ini pendapatku, bagaimana menurut pendapatmu?