REGGIO EMILIA APPROACH (REA)
Hari Sabtu tanggal 16 Januari 2021 kemarin adalah pertemuan pertama kami di REA Masterclass yg difasilitasi oleh Early Childhood Educator Ms. Krista Endinda dan dipimpin oleh Pedagogical Consultant Ms. Ambra Lanzi. Lebih dari 150 peserta mengikuti kelas ini dan 80% persen darinya adalah orang tua, sisanya guru/tenaga pendidik. Aku merasa bangga melihat para peserta yang sangat antusias mengikuti kelas ini, karena ini artinya pelan-pelan masyarakat Indonesia mulai meletakkan perhatian yang lebih terhadap metode pengasuhan anak.
Reggio Emilia sendiri adalah nama kota kecil di negara Itali bagian utara. Singkat cerita, penduduk di kota itu ingin bangkit kembali setelah penderitaan Perang Dunia ke II. Salah satu caranya adalah dengan membangun sekolah untuk anak-anak yang pada saat itu juga mendapat dukungan besar dari para orang tua dan komunitas sekitar. Dari situ muncul Loris Malaguzzi, seorang tokoh penting di dalam dunia REA. Ia membangun sekolah untuk pendidikan anak usia dini, berkolaborasi dengan para pengajar di RE, dan mengembangkan teori REA yang menjadikan anak sebagai tokoh utama dalam proses pembelajaran serta menganut metode konstruktivis. REA bukan hanya filosofi pendidikan, tetapi juga filosofi kehidupan.. Sebagai orang tua, aku juga harus memberi contoh yang baik dan sungguh-sungguh mempraktekkan REA dalam kehidupan sehari-hari
IMAGE OF CHILD
REA percaya bahwa anak memiliki citra yang kuat, memiliki banyak potensi, kompeten, dan yang paling utama adalah mereka terhubung dengan orang dewasa maupun anak-anak lainnya. Mereka memiliki kesetaraan dan hak yang sama seperti layaknya orang dewasa. Proses pembelajaran lebih diutamakan dan dihargai daripada hanya hasil akhirnya. Selain itu, proses pembelajaran mereka terjadi dari kolaborasi yang baik antara orang tua, guru, lingkungan dan temannya di sekolah. Inilah yang membuatku ingin mengetahui REA secara lebih dalam lagi, karena selama ini aku merasa banyak sekali orang tua di Indonesia yang hanya mengandalkan guru dan tidak terlibat langsung di kehidupan pendidikan anak mereka.
Orang tua seringkali memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap anak. Anak diharapkan belajar baca tulis dan hitung sebelum waktunya. Seolah semuanya bagaikan kompetisi dengan anak orang lain yang berujung memberi tekanan buruk terhadap anak. REA percaya bahwa yang paling penting dalam mendidik anak adalah bagaimana memberikan stimulasi yang baik sehingga anak bisa belajar dengan senang hati, tanpa beban, dan sesuai dengan kemampuan mereka. Ketika anak memberi pertanyaan,"Mama, kenapa langit warnanya biru?", berikanlah mereka stimulasi dengan memberikan pertanyaan lanjutan,"menurut kamu kenapa?". Apa kamu tahu, jawaban ilmiah yang rumit dari orang tua bisa membuat anak mundur dari rasa ingin tahunya! Jika anak bingung harus menjawab apa, katakanlah,"nanti kita cari tahu bersama-sama ya". Inilah peran orang dewasa dalam REA: menghormati opini dan sudut pandang anak, sebagai pengamat, sebagai teman kerja anak, serta pendengar yang baik!
EMBRACE YOUR CHILD
Di penghujung mendekati akhirnya kelas, ada kata-kata Ms. Ambra yang paling aku ingat dan paling berkesan: jangan pernah membandingkan anak kita dengan anak lain. Masing-masing anak memiliki potensi yang berbeda dan istimewa. My child is beautiful as he is! Anak bukan kertas kosong, mereka juga bukan kotak, yang bisa kita isi dengan apapun yang kita mau. Dalam diri anak sudah ada berbagai macam potensi, tugas orang dewasa adalah mengarahkan dan mengeluarkan potensi itu.
Bagaimana menurutmu? Apakah sejalan dengan apa yang kamu pikirkan selama ini? Untukku metode ini sungguh menarik dan bermanfaat untuk dipraktekkan. Semoga ringkasan ini bisa bermanfaat dan mungkin bisa membuatmu lebih ingin mendalami REA. Tak sabar untuk pertemuan kedua besok Sabtu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya...
