Rabu, 23 Desember 2020
Bab yg Paling Mengena dari Buku The Danish Way of Parenting
Rabu, 16 Desember 2020
Jalan Jalan ke Taman Safari Bogor
Bulan lalu aku, suami, dan anakku memutuskan untuk mengunjungi Taman Safari Bogor di tengah pandemi ini. Tentu saja kami takut dan was-was, tapi si anak sungguh sudah terlalu bosan di rumah dan dia sedang di puncaknya ingin tahu segala hal. Kami pikir, karena di dalam mobil saja, seharusnya tidak masalah pergi kesana. Tiga hari sebelumnya kami membeli tiket secara online di website Taman Safari Bogor. Aku cari di aplikasi seperti Traveloka, tetapi tidak tersedia. Kebetulan suamiku memang memiliki kartu kredit, sehingga pembayaran lebih mudah. Tapi tenang saja, jika tidak memiliki kartu kredit pembayaran bisa dilakukan melalui transfer. Nah sepertinya jika beli tiket online di website, harganya sedikit lebih murah. Ini harga di hari biasa ya, bukan Sabtu, Minggu, atau hari libur. Pada website tertera harga sebagai berikut: Lebih dari 6 tahun Rp195,000, kurang dari 5 tahun Rp170,000 (umur 5.5 tahun anggap saja 5 tahun). Jika dihitung, total 2 dewasa dan 1 anak seharusnya Rp560,000 bukan? Tetapi kami membayar secara online sejumlah Rp530,000 dengan rincian 2 dewasa masing-masing Rp185,000 dan 1 anak Rp160,000. Berarti kalau beli online, harga tiket lebih murah Rp10,000. Oh iya tambah biaya parkir mobil Rp20,000. Jadi total yang kami bayarkan adalah sebesar Rp550,000.
Dengan memakai masker dan mematuhi protokol yang ada, kami pun berangkat ke Taman Safari Bogor. Perjalanan mobil cukup lancar, berangkat pukul 8 pagi sampai disana pukul 10 pagi. Anakku tertidur tepat setelah kami sampai disana. Sambil menunggu dia bangun, saya dan suami membuka dan memakan bekal yang dibawa dari rumah untuk menghindari makan di tempat umum. Setelah selesai makan, kami memulai perjalanan safari di dalam mobil ketika akhirnya anakku terbangun. Masih terkantuk-kantuk anakku terdiam melihat banyak gajah. Sepertinya masih mengumpulkan nyawa. Saat melihat rusa dan onta, dia pun mulai mengoceh dan terlihat senang. Ini pengalaman pertama kalinya untuk anakku melihat hewan yang tadinya hanya bisa dia lihat di buku ataupun film. Kami tidak memberi makan mereka, karena sudah ada peraturan cukup jelas dimana para pengunjung dilarang memberi makan para hewan. Tetapi sepanjang perjalanan mendekati Taman Safari, banyak sekali penjual wortel dan hampir semua mobil yang kami lihat memberi makan hewan hewan ini. Anehnya pengawas Taman Safari juga melihatnya tetapi tidak menegur atau memberi komentar apapun. Cukup menegangkan ketika kami sampai di bagian hewan buas seperti harimau dan singa. Untungnya mereka semua sedang beristirahat dengan santai dan tidak mendekati mobil-mobil yang lewat. Kami dilarang membuka jendela.
Setelah melakukan Safari Journey, kami parkir mobil di area A. Sungguh aneh ketika melihat area ini karena selama bertahun-tahun aku punya ingatan akan tempat ini tetapi tidak ingat dimana lokasinya. Ternyata disini, di parkir area A Taman Safari Bogor dan ingatanku merujuk ke liburan keluarga 10 tahun yang lalu. Sungguh indahnya memori itu, ketika Papi masih ada, masih sehat, masih bisa jalan. Tak pernah aku sangka 10 tahun kemudian aku akan mengunjungi tempat ini lagi bersama suami dan anakku. Tempat pertama yang kami kunjungi dia area ini adalah Baby Zoo. Seperti namanya, kebun binatang mini ini cukup menarik. Begitu masuk kami disambut langsung oleh kanguru. Aku sangat kaget ketika tiba-tiba ada kanguru disampingku, tetapi anakku justru santai saja ingin memegangnya. Itulah kadang yang aku kagum dari anak, mereka belum mengerti dunia ini, belum takut akan apapun. Sebelum sempat memegang, kanguru itu pun kabur. Naik kereta mini ke dunia dinosaurus, naik onta, semua dialami langsung oleh anakku. Aku tahu dia tidak akan ingat, yang paling penting aku bisa membuatnya senang untuk saat ini.
Sebenarnya cukup banyak wahana binatang yang bisa dikunjungi, tetapi menurutku satu hari tidak cukup untuk mengunjungi semuanya. Apalagi dengan balita yang butuh tidur cukup lama di sela-sela waktu wisata. Harga yang kami bayarkan meliputi wahana Safari Journey, Istana Panda, 13 Wahana Permainan, 8 Presentasi Edukasi, Baby Zoo, Kubah Burung, Komodo Dragon Island, Pusat Primata, Air Terjun Curug Jaksa, Kampung Papua, Humboldt Penguin. Bayangkan saja, kami hanya sempat mengunjungi tiga dari semua yang sudah disebutkan. Presentasi Edukasi pun juga tak semuanya, karena jam pertunjukan ada yang bersamaan. Datang jam 10, pulang jam 5, dan sudah sangat lelah. Kami pikir anak kami yang hampir dua tahun ini tertarik dengan pertunjukan binatang, tetapi kenyataannya belum begitu. Mungkin nanti kalau dia sudah lebih besar, dia akan lebih antusias menonton pertunjukan. Kami juga tidak menyarankan untuk menonton pertunjukan, karena walaupun tempat duduk sudah diberi jarak antar rombongan tetap saja isi teater selalu penuh dengan orang. Menurutku waktu yang ada lebih baik dipakai untuk mengunjungi tempat lain.
Begitulah cerita keluarga kami. Jika kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat ini lagi di masa depan, kami akan mengunjungi tempat yang belum sempat kami lihat dan tentu saja jika anak kami sudah beranjak besar supaya dia bisa sekaligus belajar akan berbagai hal. Komen di bawah jika ada yang ingin ditanyakan ya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Minggu, 13 Desember 2020
Awal Mula Diskusi Buku The Danish Way of Parenting
Senin, 26 Oktober 2020
Rumah Makan Lie Djiong Jogja
Nah kalo yg ini, my family's old time favourite. Sepanjang yg aku inget, dari aku kecil kalau makan-makan sekeluarga sering banget makan disini. Berarti udah dari sekitar 20 tahun yg lalu. Entah berapa puluh taun yg lalu rumah makan ini berdiri ya? Hebat bisa bertahan selama itu. Selain itu aku juga lihat ada karyawan yg masih bekerja disini sejak 20 tahun yg lalu. Kenapa aku bisa ingat? Ya karena setiap makan disini pasti selalu ada dia yg kasih menu makanan. Luar biasa ya...
Rumah makan ini sediain Chinese food ya. Well, Chinese food versi Indonesia, karena kayanya di Cina asli sana makanannya gak seperti di Indonesia. Chinese food disini pasti udah menyesuaikan sama lidah orang Indonesia. Nomor satu pasti pesen capcay atau kamarbola. Bedanya kalo capcay kuahnya gurih, sedangkan kamarbola kuahnya asam manis. Nomor dua, dulu papiku selalu pesen ayam goreng tulang. Duh ini aku suka banget, bumbu gurihnya tuh bener-bener meresap ke daging ayamnya. Cara makannya dicocol ke garam merica gitu. Padahal baru beberapa minggu yg lalu makan, sekarang bayanginnya aja bikin ngiler. Udah deh yg penting dua makanan ini dipesen, tinggal tambah nasi atau bakmi goreng udah mantep banget. Kalau makannya rame-rame bisa pesen menu yg lainnya tinggal pilih, karena yg lain juga enak-enak banget. Kadang bingung mau pilih yg mana. Oh iya rumah makan ini ada menu makanan babi ya.
Mungkin karena sekarang udah hampir 5 tahun tinggal di Jakarta, kadang kaget aja sama harga makanan di Jogja. Kemarin makan rame-rame berlima bayarnya kurang dari 300ribu rupiah. Buat yg tinggal di Jakarta pasti tahu kalau makan berlima di resto gak mungkin cuma segitu, pasti lebih. Mungkin bisa dua kali lipat. Makanya kalau ke Jogja aku puas-puasin cari makanan enak di luar hehehe.
Selasa, 20 Oktober 2020
Nanamia Pizzeria Jogja
Entah tempat makan ini dibangun tahun berapa, tapi yg jelas 10 tahun yg lalu di masa aku SMA, aku suka banget makan disini.
Pertama, karena makanannya enak. Disini Italian cuisine jadi isinya pizza, salad, dan tentunya berbagai macam pasta. Aku suka banget sama pizzanya karena pizzanya tuh yg crust-nya tipis itu loh, bukan yg roti tebel kaya punya PizzaHut. Terus kemarin ini juga cobain lasagna, bumbu tomatnya kerasa banget, gurih, asam tomatnya juga pas. Kalau canneloninya kerasa keju banget tapi gak bikin enek. Untuk minuman aku pesen milkshake, tapi ada yg enak juga yaitu lassi (minuman yoghurt gitu).
Kedua, harganya oke. Satu porsi pizza besar bisa buat 2-3 orang, itu harganya rentang 45-60rb rupiah. Tapi kalo aku sih gak cukup ya kebagian 2 atau 3 pizza doang, maklum rakus hahaha. Jadi pasti pesen tambahan pasta sama salad. Kadang kalau bosen, pesen yg belum pernah dicoba juga. Menurutku untuk harga segitu udah pas ya.
Ketiga, tempatnya nyaman dan instagrammable. Padahal jaman dulu instagram belum populer, tapi tempat ini tuh udah dari dulu di dekor dan di desain sedemikian rupa supaya kerasa tema makan di Italia. Kalau lagi makan disitu aku suka foto-foto juga hehehe. Menurutku fitur yg paling oke adalah dipisahnya tempat makan untuk perokok, mantap banget sih. Gak nyaman kan ya kalau makan sambil hirup asap rokok, karena dulu tempatnya itu terbuka semua. Terakhir makan disini ternyata tempatnya udah dikasih sekat jendela dan pintu kaca besar, jadi otomatis perokok pun duduk di luar sekat.
Keempat, pelayanannya memuaskan. Mbak dan masnya baik, aku pesan disitu juga gak pernah dapet yg gak sesuai dengan pesananku. Kalau mau tambah juga gampang tinggal bilang. Makanan sampai di meja gak terlalu lama juga, maklum ya karena pizzanya dimasak di oven kayu gitu jadi kalau pesan pizza bisa sampai 15 menit. Oh dan ada pojok mainan buat anak-anak loh, aku seneng banget! Selagi aku makan, anakku mainan balok dan puzzle kayu disitu. Walaupun cuma betah sebentar dan abis itu lari-lari, lumayanlah dapet waktu bentar buat aku makan.
Duh lupa fotoin fitur sekat jendela dan pintu kaca barunya, padahal aku mau tunjukin. Keasikan makan, kekenyangan, terus langsung pulang. Nanti kalau ke Jogja lagi pasti aku fotoin lebih lengkap deh.
Minggu, 11 Oktober 2020
Main Air di Ledok Sambi
Mumpung lagi di Jogja, aku ingin sekali ajak anakku main di alam (yang tentunya tidak tersedia di Jakarta). Beberapa hari sebelum aku berangkat ke Jogja, aku sempat melihat status salah satu temanku di Facebook, sedang mengunjungi tempat yang aku cari. Sejak saat itu aku sudah merencanakan ingin mengunjungi tempat itu juga. Nama tempatnya Ledoksambi. Lokasi di utara Jogja, tepatnya Jalan Kaliurang km 19. Jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota Jogja. Ya lumayan jauh, tapi tidak rugi karena tempatnya memang sangat bagus dan hawanya dingin. Kami berangkat sangat pagi dari rumah yaitu jam 6, sampai disana sekitar jam setengah 7. Tujuan kami tidak lain adalah untuk menghindari kerumunan orang banyak yang datang pada siang atau sore hari karena pandemi virus yang sedang terjadi.
Ledoksambi ini menghadirkan wisata yang benar-benar alami. Aliran sungai kecil dengan bebatuan yang ada disitu juga merupakan fitur alami (bukan buatan). Di desa wisata ini ternyata orang-orang bisa bermalam di tenda yang sudah disediakan maupun bawa sendiri. Setelah saya lihat pada laman khusus, ternyata banyak kegiatan lainnya selain camping seperti outbond, tubing, kayak, flying fox, bajak sawah, tanam padi, karawitan, batik/gerabah/t-shirt painting, serta menjanur. Wah banyak ya. Masing-masing tentu saja ada biaya sendiri. Tapi karena aku cuma ingin mengajak anakku bermain di sungai kecil, kami hanya membayar secara sukarela dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak tertutup. Pengunjung tidak dikenakan tarif resmi untuk masuk ke desa wisata ini.
Singkat cerita, anakku senang sekali main di sungai yang banyak bebatuan didalamnya. Di umur sekarang dia sedang senang dan asyik sekali bermain batu. Dia angkat satu batu, baik kecil maupun besar. Kemudian dia lempar lagi kembali ke air. Kadang dia akan berusaha berikan batu kepadaku maupun kepada oma dan papanya. Tetapi setiap saat aku harus selalu bersama dia, karena tidak mudah untuk berjalan di bebatuan yang ada aliran arus airnya. Tidak sampai satu jam anakku sudah kedinginan. Aku angkat dia dan kulepas bajunya, kemudian aku balut dengan kain tebal dan hangat. Di mobil kupakaikan dia popok dan baju, setelah itu kami pun pulang. Kami tidak menghabiskan waktu lama disana, tetapi sudah sangat menyenangkan untuk anakku. Lain kali kami kembali ke Jogja, pasti akan mengunjungi Ledoksambi lagi.
Selasa, 06 Oktober 2020
Menjadi Ibu Baru
Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.
Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.
Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.
Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.
Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.
Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.
Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.
Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru:
- kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi.
- Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
- Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri.
- Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi.
- Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.









