Rabu, 23 Desember 2020

Bab yg Paling Mengena dari Buku The Danish Way of Parenting


Di blog ini aku ingin berbagi secara realistis. Aku akan menceritakan segala hal tanpa melebih-lebihkan atau bahkan mengurangi fakta atau kenyataan yang terjadi. Untukku, menjadi ibu sungguh adalah suatu hal yang sangat sulit terutama dalam hal meregulasi emosi. Ada hari dimana aku bisa sangat sabar dalam mengasuh anak, ada hari dimana aku benar-benar harus berjuang menjaga kewarasanku. Jujur kukatakan kepada kalian, perbandingannya mungkin bisa sampai 15:15. Bayangkan di dalam satu bulan, setengahnya kuhabiskan bergumul melawan sisi negatif diriku sendiri. Tentu saja banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini, contohnya seperti lelah dan stress. Aku seorang ibu dengan satu anak, tanpa asisten rumah tangga maupun babysitter, dan 3 hari dalam satu minggu aku harus mengurus usahaku di kantor dengan membawa anak. Tak tega kami menitipkan si anak, terutama di masa pandemi ini. Tidak, aku tidak mengeluh. Aku tidak pantas untuk mengeluh ketika banyak sekali para ibu diluar sana yang keadaannya jauh lebih tidak memungkinkan. Bersabarlah karena hal ini akan ada kaitannya dengan inti dari pertemuan/bab pertama kami.

Masak, kami tak ada waktu. Langganan catering adalah solusinya. Sama halnya untuk makanan Mave. Baju kotor, kami serahkan ke jasa cuci kiloan. Terima jadi, rapi dan wangi, tugasku hanya meletakan kembali baju yang sudah bersih ke dalam lemari. Sudah begitu, tapi entah bagaimana hariku selalu terasa penuh dan sesak. Bangun pagi, mandikan anak, siapkan sarapan anak, temani anak makan, urus diriku sendiri, hangatkan makan siang anak untuk dibawa ke kantor. Kalau di rumah, hangatkan makan siang anak sebelum dia tidur siang, supaya begitu bangun dia bisa langsung makan siang. Sering juga suamiku yang menyiapkan sarapan ketika aku memandikan si anak, supaya setelah mandi dia bisa langsung sarapan. Setelah itu, hari di kantor terasa berjalan dengan sangat cepat. Jika sedang di rumah, ada saja pekerjaan rumah yang harus aku lakukan seperti cuci baju, setrika baju, cuci piring, dan lain sebagainya. Kulihat jam tiba-tiba sudah jam 5 sore, waktu dimana aku sangat berusaha untuk mengajak Mave menikmati segarnya angin di sore hari. Rutinitas pun berlanjut: mandi sore, makan malam, main sebentar, kemudian anak pun tidur. Tak selesai disitu, setelah anak tidur aku berberes rumah dan mengerjakan pekerjaan kantor yang tak ada habisnya. Ada kalanya kopi pun tak mempan. Ketika waktu itu datang, aku hanya bisa tertidur sambil membawa beban pekerjaan yang belum aku kerjakan.

Ini hubungannya: Badan dan mentalku seperti ditarik sampai ambang batas. Tidak ada jeda, harus terus bergerak. Pada situasi inilah aku, sebagai seorang ibu, benar-benar sedang diuji. Apa reaksiku ketika hal-hal kecil yang dibuat anak memicu kemarahanku? Kata-kata apa yang akan keluar dari mulutku? Nada suara seperti apa yang aku berikan kepada anakku? Seringkali jawaban dari pertanyaan diatas, kulakukan secara tidak sadar. Seperti sudah otomatis, aku bereaksi kepada anakku seperti orang tuaku bereaksi kepadaku. Cara asuh orang tuaku seperti sudah mendarah daging dalam diriku dan terprogram di otakku. Ketika aku baca bagian ini di bab pertama, aku kecewa terhadap diri sendiri. Bagaimana bisa aku melakukan hal yang orang tuaku lakukan terhadapku, hal yang aku tidak suka sama sekali, terhadap anakku, secara tidak sadar?

Aku putuskan, aku harus memutus lingkaran setan ini dengan cara mengubah default setting (pembawaan alami) yang ada dalam diriku. Aku sungguh tidak mau anakku menjadi diriku yang seperti ini akibat asuhan yang kurang tepat. Seringkali ketika dia sudah tertidur, aku sungguh merasa bersalah telah memarahinya untuk hal yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Tidak mudah, tentu saja tidak mudah mengubah default setting yang sudah tertanam dalam sampai alam bawah sadar. Tidak mudah ketika yang biasanya otomatis bernada tinggi ketika jengkel, kemudian harus bernada halus ketika emosi memuncak. Aku benar-benar harus melihat kembali pembawaan alami di dalam diriku. Pelajari dan pahami betul-betul. Pikirkan dulu baik-baik sebelum mengeluarkan kata apapun. Inilah yang bab pertama ajarkan kepadaku. Aku ingin menerapkan cara asuh yang dulu aku harapkan dari orang tuaku. Aku tidak ingin memperlakukan anakku seperti dulu aku diperlakukan. Sesederhana itu.

Untuk para orang tua, ketika malam hari tiba dan anakmu sedang tidur, sempatkanlah dirimu untuk berhenti dan duduk sejenak. Bagaimana sikap dan cara bicara kita terhadap anak hari ini? Apa yang kurang baik dan ingin kita ubah?

Rabu, 16 Desember 2020

Jalan Jalan ke Taman Safari Bogor

Bulan lalu aku, suami, dan anakku memutuskan untuk mengunjungi Taman Safari Bogor di tengah pandemi ini. Tentu saja kami takut dan was-was, tapi si anak sungguh sudah terlalu bosan di rumah dan dia sedang di puncaknya ingin tahu segala hal. Kami pikir, karena di dalam mobil saja, seharusnya tidak masalah pergi kesana. Tiga hari sebelumnya kami membeli tiket secara online di website Taman Safari Bogor. Aku cari di aplikasi seperti Traveloka, tetapi tidak tersedia. Kebetulan suamiku memang memiliki kartu kredit, sehingga pembayaran lebih mudah. Tapi tenang saja, jika tidak memiliki kartu kredit pembayaran bisa dilakukan melalui transfer. Nah sepertinya jika beli tiket online di website, harganya sedikit lebih murah. Ini harga di hari biasa ya, bukan Sabtu, Minggu, atau hari libur. Pada website tertera harga sebagai berikut: Lebih dari 6 tahun Rp195,000, kurang dari 5 tahun Rp170,000 (umur 5.5 tahun anggap saja 5 tahun). Jika dihitung, total 2 dewasa dan 1 anak seharusnya Rp560,000 bukan? Tetapi kami membayar secara online sejumlah Rp530,000 dengan rincian 2 dewasa masing-masing Rp185,000 dan 1 anak Rp160,000. Berarti kalau beli online, harga tiket lebih murah Rp10,000. Oh iya tambah biaya parkir mobil Rp20,000. Jadi total yang kami bayarkan adalah sebesar Rp550,000.

Dengan memakai masker dan mematuhi protokol yang ada, kami pun berangkat ke Taman Safari Bogor. Perjalanan mobil cukup lancar, berangkat pukul 8 pagi sampai disana pukul 10 pagi. Anakku tertidur tepat setelah kami sampai disana. Sambil menunggu dia bangun, saya dan suami membuka dan memakan bekal yang dibawa dari rumah untuk menghindari makan di tempat umum. Setelah selesai makan, kami memulai perjalanan safari di dalam mobil ketika akhirnya anakku terbangun. Masih terkantuk-kantuk anakku terdiam melihat banyak gajah. Sepertinya masih mengumpulkan nyawa. Saat melihat rusa dan onta, dia pun mulai mengoceh dan terlihat senang. Ini pengalaman pertama kalinya untuk anakku melihat hewan yang tadinya hanya bisa dia lihat di buku ataupun film. Kami tidak memberi makan mereka, karena sudah ada peraturan cukup jelas dimana para pengunjung dilarang memberi makan para hewan. Tetapi sepanjang perjalanan mendekati Taman Safari, banyak sekali penjual wortel dan hampir semua mobil yang kami lihat memberi makan hewan hewan ini. Anehnya pengawas Taman Safari juga melihatnya tetapi tidak menegur atau memberi komentar apapun. Cukup menegangkan ketika kami sampai di bagian hewan buas seperti harimau dan singa. Untungnya mereka semua sedang beristirahat dengan santai dan tidak mendekati mobil-mobil yang lewat. Kami dilarang membuka jendela. 

Setelah melakukan Safari Journey, kami parkir mobil di area A. Sungguh aneh ketika melihat area ini karena selama bertahun-tahun aku punya ingatan akan tempat ini tetapi tidak ingat dimana lokasinya. Ternyata disini, di parkir area A Taman Safari Bogor dan ingatanku merujuk ke liburan keluarga 10 tahun yang lalu. Sungguh indahnya memori itu, ketika Papi masih ada, masih sehat, masih bisa jalan. Tak pernah aku sangka 10 tahun kemudian aku akan mengunjungi tempat ini lagi bersama suami dan anakku. Tempat pertama yang kami kunjungi dia area ini adalah Baby Zoo. Seperti namanya, kebun binatang mini ini cukup menarik. Begitu masuk kami disambut langsung oleh kanguru. Aku sangat kaget ketika tiba-tiba ada kanguru disampingku, tetapi anakku justru santai saja ingin memegangnya. Itulah kadang yang aku kagum dari anak, mereka belum mengerti dunia ini, belum takut akan apapun. Sebelum sempat memegang, kanguru itu pun kabur. Naik kereta mini ke dunia dinosaurus, naik onta, semua dialami langsung oleh anakku. Aku tahu dia tidak akan ingat, yang paling penting aku bisa membuatnya senang untuk saat ini. 

Sebenarnya cukup banyak wahana binatang yang bisa dikunjungi, tetapi menurutku satu hari tidak cukup untuk mengunjungi semuanya. Apalagi dengan balita yang butuh tidur cukup lama di sela-sela waktu wisata. Harga yang kami bayarkan meliputi wahana Safari Journey, Istana Panda, 13 Wahana Permainan, 8 Presentasi Edukasi, Baby Zoo, Kubah Burung, Komodo Dragon Island, Pusat Primata, Air Terjun Curug Jaksa, Kampung Papua, Humboldt Penguin. Bayangkan saja, kami hanya sempat mengunjungi tiga dari semua yang sudah disebutkan. Presentasi Edukasi pun juga tak semuanya, karena jam pertunjukan ada yang bersamaan. Datang jam 10, pulang jam 5, dan sudah sangat lelah. Kami pikir anak kami yang hampir dua tahun ini tertarik dengan pertunjukan binatang, tetapi kenyataannya belum begitu. Mungkin nanti kalau dia sudah lebih besar, dia akan lebih antusias menonton pertunjukan. Kami juga tidak menyarankan untuk menonton pertunjukan, karena walaupun tempat duduk sudah diberi jarak antar rombongan tetap saja isi teater selalu penuh dengan orang. Menurutku waktu yang ada lebih baik dipakai untuk mengunjungi tempat lain. 

Begitulah cerita keluarga kami. Jika kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi tempat ini lagi di masa depan, kami akan mengunjungi tempat yang belum sempat kami lihat dan tentu saja jika anak kami sudah beranjak besar supaya dia bisa sekaligus belajar akan berbagai hal. Komen di bawah jika ada yang ingin ditanyakan ya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.


Minggu, 13 Desember 2020

Awal Mula Diskusi Buku The Danish Way of Parenting

The Danish Way of Parenting: 
What the Happiest People in the World Know 
About Raising Confident, Capable Kids
oleh Iben Dissing Sandahl

Saat ini, tema parenting menjadi topik dan prioritas utama dalam pikiranku. Tentu saja karena aku sudah punya anak yang berumur hampir 2 tahun. Sebelum punya anak, mana pernah aku meletakkan pusat perhatianku pada topik ini. Aku berpikir, di umur anakku yang baru mau mendekati 2 tahun saja aku sudah mulai kebingungan tentang bagaimana aku harus bertindak sebagai orang tua. Apalagi nanti ketika dia sudah remaja? Jujur saja pikiran itu membuatku takut, maka dari itu mulai saat ini aku harus mencari tahu mana jalan yang terbaik untuk mendidik dan membesarkan anakku. Dimulai dari mencari panduan berupa buku. Ingin menangis rasanya ketika aku melihat begitu banyaknya buku bertema parenting di dunia ini. Tapi bagaimanapun aku harus memulai perjalanan parenting ini. Akhirnya aku jatuhkan pilihan ke dua buku, yang nantinya akan aku ulas setelah buku ini.

Awalnya "The Danish Way of Parenting" sudah masuk dalam nominasi bacaan yang akan aku beli, tetapi aku tunda karena judul dua buku lain itu membuatku sangat penasaran. Setelah setengah jalan membaca buku yang aku beli, seperti mendapatkan pencerahan aku menemukan akun instagram seorang Early Childhood Educator bernama Krista Endinda. Kemungkinan besar algoritma instagram memang mendeteksi apa yang sedang aku cari. Beliau mengumumkan bahwa pada bulan Oktober akan dimulai sebuah grup yang membahas tema parenting melalui buku ini. Tanpa pikir panjang aku beli bukunya dan mendaftarkan diri. Tanggal 17 Oktober 2020 pertemuan pertama diadakan melalui sesi Zoom, setiap hari Sabtu kita bertemu, difasilitasi oleh Ms. Dinda, dan berakhir minggu lalu pada tanggal 5 Desember 2020. Aku dan 24 ibu lainnya bertemu 8 kali karena ada 8 bab yang harus dibahas.

Sungguh, tidak ada habisnya ketika membicarakan tema parenting. Aku sangat bersyukur, entah bagaimana niatku dipertemukan dengan orang yang memiliki visi serupa. Aku tahu, pasti ada saja yang mengatakan "ah orang tua jaman dahulu tidak pernah baca buku untuk mendidik anak, tidak ada panduan dari siapapun, apalagi ikut grup baca buku. buktinya sekarang aku baik-baik saja. anakku juga sekarang baik-baik saja. kenapa harus repot-repot?". Pertama, ijinkanlah aku mengatakan hal ini: tolong kurangi generalisasi dari segala hal. Jaman dahulu pasti ada orang tua yang ingin cari tahu jalan parenting seperti apa yang terbaik untuk anaknya, tidak mungkin tidak ada. Kedua, apa itu definisi dari baik-baik saja? Setiap orang tua berharap yang paling baik untuk sang anak, tetapi definisi baik pun juga bisa berbeda bagi setiap orang tua. Ketiga, kalau memang harus repot untuk anak tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang baik, kenapa tidak? Mungkin itulah inti dari menjadi orang tua, harus selalu bisa melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda serta memiliki cara pemikiran yang terbuka. Ada orang yang memang sudah berbakat secara alami menjadi orang tua tanpa perlu belajar, tapi diriku sudah jelas bukan orang itu. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya ya.

Senin, 26 Oktober 2020

Rumah Makan Lie Djiong Jogja

Nah kalo yg ini, my family's old time favourite. Sepanjang yg aku inget, dari aku kecil kalau makan-makan sekeluarga sering banget makan disini. Berarti udah dari sekitar 20 tahun yg lalu. Entah berapa puluh taun yg lalu rumah makan ini berdiri ya? Hebat bisa bertahan selama itu. Selain itu aku juga lihat ada karyawan yg masih bekerja disini sejak 20 tahun yg lalu. Kenapa aku bisa ingat? Ya karena setiap makan disini pasti selalu ada dia yg kasih menu makanan. Luar biasa ya...

Rumah makan ini sediain Chinese food ya. Well, Chinese food versi Indonesia, karena kayanya di Cina asli sana makanannya gak seperti di Indonesia. Chinese food disini pasti udah menyesuaikan sama lidah orang Indonesia. Nomor satu pasti pesen capcay atau kamarbola. Bedanya kalo capcay kuahnya gurih, sedangkan kamarbola kuahnya asam manis. Nomor dua, dulu papiku selalu pesen ayam goreng tulang. Duh ini aku suka banget, bumbu gurihnya tuh bener-bener meresap ke daging ayamnya. Cara makannya dicocol ke garam merica gitu. Padahal baru beberapa minggu yg lalu makan, sekarang bayanginnya aja bikin ngiler. Udah deh yg penting dua makanan ini dipesen, tinggal tambah nasi atau bakmi goreng udah mantep banget. Kalau makannya rame-rame bisa pesen menu yg lainnya tinggal pilih, karena yg lain juga enak-enak banget. Kadang bingung mau pilih yg mana. Oh iya rumah makan ini ada menu makanan babi ya.

Mungkin karena sekarang udah hampir 5 tahun tinggal di Jakarta, kadang kaget aja sama harga makanan di Jogja. Kemarin makan rame-rame berlima bayarnya kurang dari 300ribu rupiah. Buat yg tinggal di Jakarta pasti tahu kalau makan berlima di resto gak mungkin cuma segitu, pasti lebih. Mungkin bisa dua kali lipat. Makanya kalau ke Jogja aku puas-puasin cari makanan enak di luar hehehe.


Selasa, 20 Oktober 2020

Nanamia Pizzeria Jogja

Entah tempat makan ini dibangun tahun berapa, tapi yg jelas 10 tahun yg lalu di masa aku SMA, aku suka banget makan disini. 

Pertama, karena makanannya enak. Disini Italian cuisine jadi isinya pizza, salad, dan tentunya berbagai macam pasta. Aku suka banget sama pizzanya karena pizzanya tuh yg crust-nya tipis itu loh, bukan yg roti tebel kaya punya PizzaHut. Terus kemarin ini juga cobain lasagna, bumbu tomatnya kerasa banget, gurih, asam tomatnya juga pas. Kalau canneloninya kerasa keju banget tapi gak bikin enek. Untuk minuman aku pesen milkshake, tapi ada yg enak juga yaitu lassi (minuman yoghurt gitu).

Kedua, harganya oke. Satu porsi pizza besar bisa buat 2-3 orang, itu harganya rentang 45-60rb rupiah. Tapi kalo aku sih gak cukup ya kebagian 2 atau 3 pizza doang, maklum rakus hahaha. Jadi pasti pesen tambahan pasta sama salad. Kadang kalau bosen, pesen yg belum pernah dicoba juga. Menurutku untuk harga segitu udah pas ya. 

Ketiga, tempatnya nyaman dan instagrammable. Padahal jaman dulu instagram belum populer, tapi tempat ini tuh udah dari dulu di dekor dan di desain sedemikian rupa supaya kerasa tema makan di Italia. Kalau lagi makan disitu aku suka foto-foto juga hehehe. Menurutku fitur yg paling oke adalah dipisahnya tempat makan untuk perokok, mantap banget sih. Gak nyaman kan ya kalau makan sambil hirup asap rokok, karena dulu tempatnya itu terbuka semua. Terakhir makan disini ternyata tempatnya udah dikasih sekat jendela dan pintu kaca besar, jadi otomatis perokok pun duduk di luar sekat.

Keempat, pelayanannya memuaskan. Mbak dan masnya baik, aku pesan disitu juga gak pernah dapet yg gak sesuai dengan pesananku. Kalau mau tambah juga gampang tinggal bilang. Makanan sampai di meja gak terlalu lama juga, maklum ya karena pizzanya dimasak di oven kayu gitu jadi kalau pesan pizza bisa sampai 15 menit. Oh dan ada pojok mainan buat anak-anak loh, aku seneng banget! Selagi aku makan, anakku mainan balok dan puzzle kayu disitu. Walaupun cuma betah sebentar dan abis itu lari-lari, lumayanlah dapet waktu bentar buat aku makan. 

Duh lupa fotoin fitur sekat jendela dan pintu kaca barunya, padahal aku mau tunjukin. Keasikan makan, kekenyangan, terus langsung pulang. Nanti kalau ke Jogja lagi pasti aku fotoin lebih lengkap deh.




Minggu, 11 Oktober 2020

Main Air di Ledok Sambi

Mumpung lagi di Jogja, aku ingin sekali ajak anakku main di alam (yang tentunya tidak tersedia di Jakarta). Beberapa hari sebelum aku berangkat ke Jogja, aku sempat melihat status salah satu temanku di Facebook, sedang mengunjungi tempat yang aku cari. Sejak saat itu aku sudah merencanakan ingin mengunjungi tempat itu juga. Nama tempatnya Ledoksambi. Lokasi di utara Jogja, tepatnya Jalan Kaliurang km 19. Jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota Jogja. Ya lumayan jauh, tapi tidak rugi karena tempatnya memang sangat bagus dan hawanya dingin. Kami berangkat sangat pagi dari rumah yaitu jam 6, sampai disana sekitar jam setengah 7. Tujuan kami tidak lain adalah untuk menghindari kerumunan orang banyak yang datang pada siang atau sore hari karena pandemi virus yang sedang terjadi.

Ledoksambi ini menghadirkan wisata yang benar-benar alami. Aliran sungai kecil dengan bebatuan yang ada disitu juga merupakan fitur alami (bukan buatan). Di desa wisata ini ternyata orang-orang bisa bermalam di tenda yang sudah disediakan maupun bawa sendiri. Setelah saya lihat pada laman khusus, ternyata banyak kegiatan lainnya selain camping seperti outbond, tubing, kayak, flying fox, bajak sawah, tanam padi, karawitan, batik/gerabah/t-shirt painting, serta menjanur. Wah banyak ya. Masing-masing tentu saja ada biaya sendiri. Tapi karena aku cuma ingin mengajak anakku bermain di sungai kecil, kami hanya membayar secara sukarela dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak tertutup. Pengunjung tidak dikenakan tarif resmi untuk masuk ke desa wisata ini.

Singkat cerita, anakku senang sekali main di sungai yang banyak bebatuan didalamnya. Di umur sekarang dia sedang senang dan asyik sekali bermain batu. Dia angkat satu batu, baik kecil maupun besar. Kemudian dia lempar lagi kembali ke air. Kadang dia akan berusaha berikan batu kepadaku maupun kepada oma dan papanya. Tetapi setiap saat aku harus selalu bersama dia, karena tidak mudah untuk berjalan di bebatuan yang ada aliran arus airnya. Tidak sampai satu jam anakku sudah kedinginan. Aku angkat dia dan kulepas bajunya, kemudian aku balut dengan kain tebal dan hangat. Di mobil kupakaikan dia popok dan baju, setelah itu kami pun pulang. Kami tidak menghabiskan waktu lama disana, tetapi sudah sangat menyenangkan untuk anakku. Lain kali kami kembali ke Jogja, pasti akan mengunjungi Ledoksambi lagi.


Selasa, 06 Oktober 2020

Menjadi Ibu Baru

Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.

Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.

Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.

Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.

Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.

Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.

Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.

Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru: 

  • kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi. 
  • Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
  • Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri. 
  • Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi. 
  • Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.
Di luar itu semua, bisa dibilang aku sangat beruntung. Aku punya suami yang sangat baik dan sabar, serta bisa memenuhi semua kebutuhanku dan bayi. Aku bisa tinggal di tempat yg sangat layak dan mencukupi. Aku bisa mengurus bayiku dengan tangan dan badanku sendiri. Aku bisa memberikan ASI secara eksklusif, karena ternyata banyak ibu lain yg berjuang keras untuk memberikan ASI karena berbagai hal. Aku punya pekerjaan dan jam bekerja yg bisa selalu disesuaikan, tak harus pergi ke kantor pada jam tertentu. Sungguh aku bersyukur atas itu semua.

Ah... terlalu banyak hal yg dialami ibu baru. Yg aku tulis ini mungkin hanya sebagian kecil saja. Tulis di komentar ya kalau ada yg lupa aku sebutkan di tulisan ini. Untuk para ibu baru, INGAT, SEMUA HANYA UNTUK SEMENTARA, TIDAK ADA YANG SELAMANYA. Nikmati masa hamilmu, masa kamu menggendong dan menyusui bayimu, karena waktu berjalan begitu cepat! Saat ini memang terasa lelah dan berat, tapi lihatlah wajah anakmu, mereka sangat membutuhkanmu. Menjadi ibu sungguh tak ternilai harganya, merupakan hadiah terindah untukku, dianugerahi seorang anak yg sehat, aktif, dan pintar. Semoga aku bisa merawat dan mendidiknya dengan baik, sehingga dia menjadi orang yg baik dan sukses di masa depan...