Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

The 33 (2015)

Apa kamu pernah mengeluh karena pekerjaan kamu sehari-hari? Harus bangun pagi, terkena macet, teman kantor yang tidak bersahabat, bayaran yang tidak sepadan, duduk menghadap komputer sepanjang hari, contohnya?

*Tulisan di bawah ini mengandung spoiler.*


Kemarin saya baru saja menonton film yang berjudul "The 33". Entah kenapa film tahun 2015 ini tidak terdengar suaranya (atau mungkin saya yang memang ketinggalan berita). Setelah menonton ini, komentar saya hanya "wow". Betapa saya orang yang tidak bersyukur atas kehidupan yang diberikan kepada saya. Begitu nyaman, lingkungan pekerjaan yang kondusif, bayaran cukup. Sedangkan di luar sana terlalu banyak orang yang sampai harus mengorbankan nyawa demi sesuap nasi yang bayarannya pun kadang sangat tidak sepadan, yang digambarkan oleh film ini. Tambang, adalah salah satu lingkungan pekerjaan yang paling berbahaya di dunia. 33 orang tahu bahwa tambang San Jose di Chile sangatlah tidak stabil. Bisa runtuh kapan saja dan akhirnya pun mereka sungguh-sungguh terjebak di kedalaman sekitar 700 meter dengan kurang lebih suhu 32 derajat Celcius. 17 hari mereka bertahan di bawah sana dengan makanan di lubang perlindungan yang jelas tidak mencukupi untuk 33 orang, sampai akhirnya salah satu dari bor penyelamatan mencapai mereka. Mental mereka di uji, terlihat "warna" kepribadian mereka masing-masing yang sebenarnya. Membutuhkan 52 hari kemudian untuk menyelamatkan mereka satu per satu dari tambang mematikan itu. Orang-orang tercinta dari para penambang pun tidak menyerah dan tidak segan-segan memasang tenda di depan pintu gerbang tambang tersebut serta setia menunggu sampai mereka bisa bertemu kembali dengan 33 penambang tersebut.


Mungkin saya yang terlalu sensitif, tapi hati saya sangat miris menonton film ini. Apakah pekerjaan sebagai penambang dan juga pekerjaan lain yang sangat berbahaya di dunia, sepadan bayarannya dengan nyawa manusia? Apakah benar-benar tidak ada solusi lain?

Minggu, 22 Mei 2016

Land of Mine (2015)

Heartbreaking.
Painful.
Agonizing.

Did you ever wonder, what happened after the war was over? World War II especially. 


*Tulisan di bawah ini mungkin mengandung spoiler.*


Tiga ekspresi pertama yang saya tulis benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan ketika menonton film yang disutradarai oleh Martin Zandvliet ini.  Bahkan setelah dilihat dari adegan, latar belakang, maupun faktor lainnya, film ini tidak terlihat seperti film yang bermodal mahal. Tetapi bagi saya film ini menjadi salah satu dari deretan film perang yang istimewa.


Sekelompok tawanan perang remaja Jerman dipaksa untuk bertanggungjawab atas penjinakan lebih dari 45000 ranjau di sepanjang salah satu pantai Denmark. Dengan tangan kosong mereka sambil merayap di pasir pantai yang begitu panasnya, mereka menggali satu per satu ranjau yang tentara Jerman pasang ketika perang. Tanpa tempat tinggal dan makanan yang layak, mereka berjuang dengan hidup mereka sebagai taruhannya demi pulang kembali ke tanah air Jerman.


Sergeant Carl yang dibintangi oleh Roland Møller ini ditugaskan untuk mengawasi dan memastikan supaya penjinakan ranjau ini berjalan dengan lancar digambarkan pada adegan awal sebagai pimpinan tentara pada umumnya: tak punya hati, tidak peduli, kejam, dan menyimpan rasa marah kepada para tawanan perang Jerman atas semua kehancuran yang sudah mereka perbuat. Tetapi mungkin Sergeant Carl menjadi salah satu alasan kenapa saya anggap film ini luar biasa. Sergeant Carl mengajarkan saya bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya perasaan dan hati. Manusia yang ketika melihat sesuatu yang salah dan tidak pantas, bisa memiliki kemauan untuk mengubah keadaan supaya menjadi benar dan pantas. Dia juga mengajarkan betapa pentingnya menepati janji yang sudah keluar dari mulut kita manusia. 


Film ini juga menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Apa bukan suatu kejahatan, memanfaatkan sekelompok tawanan perang, apalagi hanya remaja, untuk menjinakkan semua ranjau itu? Bukankah banyak dari mereka hanya mengikuti perintah dari atasan negeri mereka saja untuk maju perang membela negara? Apa para remaja Jerman tersebut mengerti apa yang sedang terjadi saat itu? Saya juga tentu saja bisa mengerti di kasus ini, negara Denmark, tentu saja tidak rela mengorbankan anak negeri sendiri untuk menjinakkan ranjau-ranjau tersebut. Tetapi siapa pula yang harus terpaksa dikorbankan demi mengosongkan pantai tersebut dari ranjau, kalau bukan negara yang sudah menanamnya sendiri?