Heartbreaking.
Painful.
Agonizing.
Did you ever wonder, what happened after the war was over? World War II especially.
*Tulisan di bawah ini mungkin mengandung spoiler.*
Tiga ekspresi pertama yang saya tulis benar-benar menggambarkan apa yang saya rasakan ketika menonton film yang disutradarai oleh Martin Zandvliet ini. Bahkan setelah dilihat dari adegan, latar belakang, maupun faktor lainnya, film ini tidak terlihat seperti film yang bermodal mahal. Tetapi bagi saya film ini menjadi salah satu dari deretan film perang yang istimewa.
Sekelompok tawanan perang remaja Jerman dipaksa untuk bertanggungjawab atas penjinakan lebih dari 45000 ranjau di sepanjang salah satu pantai Denmark. Dengan tangan kosong mereka sambil merayap di pasir pantai yang begitu panasnya, mereka menggali satu per satu ranjau yang tentara Jerman pasang ketika perang. Tanpa tempat tinggal dan makanan yang layak, mereka berjuang dengan hidup mereka sebagai taruhannya demi pulang kembali ke tanah air Jerman.
Sergeant Carl yang dibintangi oleh Roland Møller ini ditugaskan untuk mengawasi dan memastikan supaya penjinakan ranjau ini berjalan dengan lancar digambarkan pada adegan awal sebagai pimpinan tentara pada umumnya: tak punya hati, tidak peduli, kejam, dan menyimpan rasa marah kepada para tawanan perang Jerman atas semua kehancuran yang sudah mereka perbuat. Tetapi mungkin Sergeant Carl menjadi salah satu alasan kenapa saya anggap film ini luar biasa. Sergeant Carl mengajarkan saya bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya perasaan dan hati. Manusia yang ketika melihat sesuatu yang salah dan tidak pantas, bisa memiliki kemauan untuk mengubah keadaan supaya menjadi benar dan pantas. Dia juga mengajarkan betapa pentingnya menepati janji yang sudah keluar dari mulut kita manusia.
Film ini juga menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Apa bukan suatu kejahatan, memanfaatkan sekelompok tawanan perang, apalagi hanya remaja, untuk menjinakkan semua ranjau itu? Bukankah banyak dari mereka hanya mengikuti perintah dari atasan negeri mereka saja untuk maju perang membela negara? Apa para remaja Jerman tersebut mengerti apa yang sedang terjadi saat itu? Saya juga tentu saja bisa mengerti di kasus ini, negara Denmark, tentu saja tidak rela mengorbankan anak negeri sendiri untuk menjinakkan ranjau-ranjau tersebut. Tetapi siapa pula yang harus terpaksa dikorbankan demi mengosongkan pantai tersebut dari ranjau, kalau bukan negara yang sudah menanamnya sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar