Selasa, 06 Oktober 2020

Menjadi Ibu Baru

Kalau ditanya "gimana rasanya jadi ibu baru?", ingin aku jawab "seneng banget". Tapi sepertinya aku akan jawab "hmm nano nano"... Karena begitulah kenyataannya. Emosi campur aduk, dari bahagia sampai stress mau nangis, semuanya ada.

Sekitar satu jam setelah melahirkan anakku, aku masih merasa seperti ada di dalam mimpi. Anakku yg selama ini aku tunggu tunggu, sudah ada di luar perutku. Setiap beberapa saat aku masih menanti kontraksi datang, padahal proses melahirkan sudah selesai. Dalam hati aku berulang-ulang memberitahu diriku sendiri, "sudah selesai Ola, semua sudah selesai, bayimu sudah lahir dengan selamat", sampai aku akhirnya tertidur di kamar rumah sakit. Itupun aku tidak bisa langsung tertidur, padahal lelahnya luar biasa. Lapar juga, tapi makanan terasa hambar. Aku hanya bisa melihat suamiku tertidur di sofa kamar, sambil sesekali menonton televisi yg ada di dinding depan kasurku. Tidak ada hal lain yg aku pikirkan, selain ingin tidur saja. Oh iya, sekitar 6 jam setelah lahiran aku sudah dibolehkan turun dari tempat tidur ya, walaupun masih dengan pertolongan suami.

Keesokan hari setelah aku bangun tidur, aku baru berpikir "bayiku dimana ya? Kenapa tidak bersamaku di kamar?". Aku minta suamiku untuk melihat bayi kami di ruang bayi. Ternyata para bayi ini sedang dijemur di bawah sinar matahari jam 8 pagi. Setelah itu dimandikan, baru dibawa ke kamarku. Betapa bahagianya aku melihat bayiku sedang tertidur dibalut selimut, di dalam keretanya. Terlihat jelas sekali kemiripan dengan suamiku. Dokter dan suster memberi pesan padaku berkali-kali: beri sang bayi ASI kalau bangun dan menangis. Beberapa kali kucoba tapi dia masih tak mau. Tapi untungnya di siang hari bayiku sudah mau diberi ASI. Aku pun lega.

Malam kedua, aku jadi mengerti kenapa di malam pertama bayiku ditempatkan di ruangan khusus. Alasannya supaya orang tua bisa istirahat. Anakku menangis tanpa henti malam itu. Bergantian dengan suamiku, kami coba menenangkan dia dengan berbagai cara. Popok sudah diganti, ASI sudah diberi, sampai dia tak mau lagi. Para orang tua, jangan sampai merasa jengkel atau kesal ya. Mengertilah bahwa si bayi ini sedang dalam proses adaptasi. Yg biasanya nyaman dan hangat di dalam air ketuban serta tak ada gangguan, sekarang harus mendengar banyak suara, di gendong dan di bawa bawa, belajar minum dan menelan ASI, belum lagi menyesuaikan dengan suhu yg sangat hangat di negara tropis ini. Bisa dibayangkan betapa tidak enaknya.

Hari ketiga aku pun pulang dengan bayi di gendonganku. Rasanya sungguh campur aduk. Hal paling berat yg aku alami selama merawat bayiku, mungkin adalah sangat minimnya bantuan. Mamiku datang hanya beberapa hari pertama setelah lahiran, karena beliau tinggal di Jogja. Sedangkan sebulan pertama suamiku harus pergi pagi pulang sore, karena harus membereskan renovasi apartemen baru yg akan kami tempati termasuk kamar bayiku serta selalu ada pekerjaan di kantor yg harus diselesaikan. Aku dan suami juga komitmen untuk menjalankan semua tanpa asisten rumah tangga maupun nanny/babysitter. Dua minggu pertama anakku masih mau ditidurkan di kasur setelah menyusu. Tapi setelah itu sepertinya proses adaptasi kembali terjadi. Dia tidak mau ditidurkan di kasur, sepanjang hari aku harus menggendongnya. Makan dengan satu tangan, mandi hanya sore setelah suami pulang. Ingin rasanya mandi di pagi hari sebelum suamiku berangkat, tapi mataku tak sanggup terbuka. Pada malam hari bayiku bisa bangun beberapa kali untuk menyusu. Kadang 2-3 jam sekali, kadang bisa 1 jam sekali. Pagi hari harus diberi sinar matahari, karena kadar bilirubin tinggi. Baru di umur 2.5 bulan anakku bisa tertidur lumayan lama di malam hari. Tidur menjadi hal yg sangat aku hargai di masa masa ini.

Belum lagi melihat badanku yg sepertinya tak kunjung mengecil, terutama di bagian perut. Aku pikir setelah melahirkan, perut bisa langsung terlihat seperti sebelum hamil. Salah besar. Perut masih akan terlihat seperti layaknya orang hamil muda. Perlu sekitar dua minggu untukku sampai akhirnya tak terlihat lagi perut besar itu, walaupun jelas masih ada sisa perut yg bisa disembunyikan dengan baju. Berat badan pun tak seutuhnya kembali ke awal. Kenaikan 17 kg sewaktu hamil tak bisa hilang semuanya begitu saja.

Berbagai perubahan pun terjadi dan cukup membuat diriku kaget. Keraguan apakah aku akan sanggup merawat bayiku dan menjadi ibu yg baik pun muncul. Yg dulunya bebas melakukan apa saja, sekarang tak bisa melakukan apa-apa. Sering aku menangis tiba-tiba tanpa alasan, mudah sekali sedih dan jengkel, tidak nafsu makan dan sebagainya. Ternyata ini pun ada istilahnya: baby blues. Termasuk masih ringan jika dibandingkan postpartum depression yg bisa berakibat fatal.

Untuk para suami, atau siapapun yg akan menemani sang ibu baru: 

  • kenali gejala baby blues. Jangan sampai gejala memburuk, kemudian akhirnya berubah menjadi depresi. Beritahu si ibu baru bahwa dia sudah melakukan yg terbaik untuk bayinya. Pastikan dia terurus dengan baik, hal dasar seperti makan dan mandi. 
  • Bersabarlah, hormon ibu baru sedang tidak karuan, kadang ia bisa tiba tiba sedih atau marah.
  • Ketika ibu sedang menyusui, pastikan semua yg dia butuhkan ada di dekatnya, seperti minum atau cemilan. Menyusui membuat ibu kadang haus ataupun lapar. Jika bayi bisa diberi botol dot, bantu gendong si bayi dan beri susu. Ini bisa memberi ibu baru waktu untuk melakukan hal lain seperti tidur atau mengurus diri sendiri. 
  • Mengganti popok juga bukan hanya tugas sang ibu! Ayah juga harus bisa mengganti popok maupun memandikan bayi. 
  • Bantu bersihkan rumah. Sepulang dari rumah sakit, rumah pasti tak terurus dan banyak yg harus dikerjakan. Saat ini kemampuan ibu baru sangat terbatas untuk mengurus rumah. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tak pernah salah.
Di luar itu semua, bisa dibilang aku sangat beruntung. Aku punya suami yang sangat baik dan sabar, serta bisa memenuhi semua kebutuhanku dan bayi. Aku bisa tinggal di tempat yg sangat layak dan mencukupi. Aku bisa mengurus bayiku dengan tangan dan badanku sendiri. Aku bisa memberikan ASI secara eksklusif, karena ternyata banyak ibu lain yg berjuang keras untuk memberikan ASI karena berbagai hal. Aku punya pekerjaan dan jam bekerja yg bisa selalu disesuaikan, tak harus pergi ke kantor pada jam tertentu. Sungguh aku bersyukur atas itu semua.

Ah... terlalu banyak hal yg dialami ibu baru. Yg aku tulis ini mungkin hanya sebagian kecil saja. Tulis di komentar ya kalau ada yg lupa aku sebutkan di tulisan ini. Untuk para ibu baru, INGAT, SEMUA HANYA UNTUK SEMENTARA, TIDAK ADA YANG SELAMANYA. Nikmati masa hamilmu, masa kamu menggendong dan menyusui bayimu, karena waktu berjalan begitu cepat! Saat ini memang terasa lelah dan berat, tapi lihatlah wajah anakmu, mereka sangat membutuhkanmu. Menjadi ibu sungguh tak ternilai harganya, merupakan hadiah terindah untukku, dianugerahi seorang anak yg sehat, aktif, dan pintar. Semoga aku bisa merawat dan mendidiknya dengan baik, sehingga dia menjadi orang yg baik dan sukses di masa depan...

Senin, 05 Oktober 2020

Nyekar ke Parangtritis

Beberapa hari yg lalu kami sekeluarga nyekar almarhum Papi di pantai Parangtritis. Jaraknya lumayan jauh dari rumah kami, sekitar 40 km ditempuh selama kurang lebih 1 jam naik mobil. Berangkat pukul 6 pagi, sampai disana pukul 7. Setelah sampai disana yg aku lihat banyak sekali sampah plastik, sungguh sedih sekali. Padahal pemandangan lautnya luar biasa cantik.

Ya betul, abu Papi dihanyutkan ke laut di pantai ini tahun lalu. Sedangkan untuk anakku ini pertama kalinya dia berkunjung ke pantai. Setelah dicoba, ternyata dia benci pantai. Dia gak suka ada campuran pasir dan air laut di kakinya. Maklum masih bayi, masih sensitif dengan tekstur. Mungkin tahun depan aku coba lagi...




Jumat, 02 Oktober 2020

Bayiku Tidur di Kamar Sendiri

Sejak anakku masih di dalam perut, aku memang berniat banget melatih dia untuk tidur sendiri setelah dia lahir. Kamar dan kasur udah disiapin semua. Tapi akhir-akhir ini aku baru sadar, ternyata kok setelah baca berbagai forum, khususnya di Indonesia ini budayanya adalah bayi tidur bersama orang tua. Ada juga yg bilang kesannya kejam amat bayi dibiarin tidur sendiri. Aku kaget sih, aku sampe sempet bertanya-tanya apa selama ini aku salah?

Tentu saja aku memutuskan untuk melatih anakku tidur sendiri itu ada pertimbangannya ya. Alasan paling utama adalah berdasarkan pengalamanku sendiri. Dari kecil sampai mau lulus SMP, aku tidur bareng di satu kamar besar sama mami dan adek-adekku. Begitu udah mau SMA, aku harus banyak ngelembur belajar kan. Kadang abis belajar mau langsung tidur aja gitu. Udah gitu rasanya tuh gak tenang tidur rame-rame gitu, ada aja yg bikin suara (ngorok, bolak-balik badan di tempat tidur, dsb). Akhirnya aku minta kamar sendiri dan tebak apa yg terjadi? Aku ketakutan. Ya mungkin kalo abis nonton horror bisa karena itu juga. Tapi seringnya tuh ketakutan karena gak biasa tidur sendiri. Mau merem kayak ada sesuatu yg hilang. Gimana ya, susah jelasinnya. Baru setelah beberapa minggu, akhirnya aku bisa adaptasi dan bisa tidur. Itu aja harus pake lampu terang, gak bisa lampu oren juga apalagi gelap.

Itulah kenapa aku mau biasain anakku tidur sendiri. Tapi sampai sekarang sih di Amerika Serikat ya contohnya, sepertinya masih ada pro-kontra juga. Ada penelitian yg mengatakan bahwa bayi tidur bersama orang tua bisa menghindarkan bayi dari SIDS alias kematian mendadak pada bayi. Tapi sekarang ada penelitian terbaru juga yg berkata bahwa bayi yg tidur bersama orang tua itu tidurnya lebih pendek dan sebenernya gak aman karena banyak objek di kasur yg bisa berbahaya untuk bayi seperti bantal, guling, selimut, atau bahkan bisa juga orang tua secara gak sadar menimpa anaknya yg sedang tidur!

Aku akan bandingkan hasil penelitian di atas tadi dengan pengalamanku sendiri ya: 

1. Tidur sendiri, bangunnya lebih lama: betul. Tapi kalo gak ada halangan seperti sedang tumbuh gigi ya. Di umur 1 tahun tidur jam 9 malam, bangun jam 6 pagi, paling bangun satu kali. Dikasi ASI abis itu tidur lagi. Kalo sedang tumbuh gigi, bisa bangun beberapa kali. Sebisa mungkin kalo dia udah tidur lagi, langsung tinggal aja. Kadang capek banget bolak balik, tapi itu satu-satunya cara supaya dia nantinya bisa tidur sendiri.

2. Tidur sendiri, kalo bangun lebih gampang balik tidur lagi: betul. Seperti yg aku bilang di atas ya, kalo bangun aku kasi ASI. Abis itu dia tidur lagi.

3. Tidur sendiri, jadwal tidur selalu sama: betul. Gak ada tuh melek sampe pagi, gak tidur tidur. Siang juga kalo udah jamnya anakku pasti istirahat tidur. Aku kadang lihat story instagram orang lain yg anaknya seumuran anakku, jam 12 pagi belum tidur. Setelah aku lihat ya memang ternyata dia tidurnya bareng orang tua.

Selalu lihat dari kondisi bayi masing-masing ya... Anakku dibiarkan tidur sendiri karena untungnya dia bayi yg sehat. Lahir secara alami di umur kehamilan 9 bulan dan tidak ada masalah pernapasan ataupun yg lainnya. Sampai dia umur 1 tahun, aku gak pernah sampai harus bangunin dia untuk ASI. Awal awal memang capek banget, baru di umur 2.5 bulan akhirnya anakku bisa ditinggal tidur sendiri di kamarnya. Sebelumnya aku harus selalu gendong dia sambil duduk di sofa samping tempat tidurnya supaya dia tidur. Mau gimanapun aku tetep usahain supaya dia selalu berada di kamarnya sendiri waktu tidur, supaya terbiasa dengan lingkungan tidurnya. Aku sama suami tidur di kamar sebelah dia ya, bener bener sebelahan banget. Jadi kalo dia nangis bisa langsung denger (kebetulan aku juga orangnya gampang banget bangun kalo ada suara). 

Kesimpulannya, aku rasa gak ada yg salah. Ada orang tua yg mau tidur bareng anaknya, selagi masih kecil mau manfaatkan waktu bersama. Kapan lagi bisa tidur rame-rame ya kan. Kalo anak udah gede pasti gak akan mau. Saya beda lagi ya pendapatnya, saya harus bisa dapet tidur yg baik kualitasnya. Saya urus bayi saya sendiri, gak ada nanny/babysitter, gak ada asisten rumah tangga. Jadi setelah seharian lelah mengurus anak, malamnya saya harus istirahat yg cukup juga. Caranya adalah dengan membiarkan anak tidur sendiri. Menurut saya itu tidak kejam dan ada baiknya juga bagi orang tua maupun anak. 

Oke kayanya segitu dulu ya, ntar lanjut lagi kapan-kapan hehehee

Selasa, 29 September 2020

Road Trip to Jogja

Hai teman temaaan... Beberapa hari yg lalu, aku dan suamiku memutuskan untuk berangkat ke Jogja. Iya kami mikir-mikir banget sebenernya untuk pulang ke Jogja di tengah pandemi ini, tapi udah satu tahun lebih rumah di Jogja gak dikunjungi. Terakhir kali gak kesana selama satu tahun, rumahnya udah dihuni tikus dan butuh beberapa hari untuk mengusir mereka semua. Bayangin aja udah capek perjalanan lama di mobil, sampe rumah masih harus bersih-bersih, eh terus ada tikus tinggal sekeluarga beranak pinak. Rasanya mau nangis. Bagus waktu itu belum ada bayi. Tapi untungnya sekarang udah ada orang yg bantuin urusin dan bersihin rumah, jadi begitu sampe gak perlu bersih-bersih terlalu banyak. 

Karena masih ada pandemi, jadi kami gak kemana-mana juga sih selama di Jogja (walaupun gak ada PSBB juga). Tapi gak bosen karena disini tuh bisa nikmatin semuanya. Aku seneng banget bisa pulang ke Jogja karena suasananya beda banget dibandingkan Jakarta. Rumahnya kebetulan di deket sungai, ada kolam ikan juga, kalo malem cuma denger suara jangkrik, gak ada suara berisik kendaraan. Anakku seneng banget main disini, tidurnya juga lebih nyenyak. Bener-bener bisa menghilangkan stress yg didapat dari Jakarta. Stress kerjaan sih terutama, dan stress gegara PSBB yg berjilid-jilid gak tau selesainya kapan. Biasanya kalo stress paling jalan di mall, nah sekarang ke mall aja gak bisa. Ke tempat umum gak bisa deh pokoknya. Kebayang kan gimana stressnya di Jakarta gak bisa kemana-mana, apalagi anakku lagi aktif banget sekarang ini.

Lebih enaknya lagi, sekarang dari Jakarta ke Jogja cuma 8 jam loh karena 90% perjalanan udah lewat tol! Rasanya tu cepet banget kaya cuma ke kota sebelah, apalagi kalo di mobil kerjaannya tidur. Kasian suami sih, dia yg nyetir karena aku gak bisa hehehe. Kalo dulu tolnya cuma sampe Palimanan, sekitar 3 jamlah dari Jakarta. Abis itu pilih mau lewat jalur utara atau selatan. Pernah coba jalur utara, tapi isinya gunung naik turun berkelok-kelok dijamin mabuk kalo orangnya rapuh kaya aku ini. Kapok lewat jalur utara. Jadi setelahnya selalu lewat jalur selatan dan bisa 12 jam baru sampe Jogja karena di jalan selalu banyak truk besar yg gak bisa disalip. Belum kalo lebaran ya. Dulu pernah pas lebaran pulang ke Jakarta, baru sampe setelah 24 jam. Abis itu gak pernah lagi deh pulang ke Jogja waktu lebaran.

Oh iya ini aku kasitau ya detail perjalanan dari Jakarta ke Jogja siapa tau bermanfaat:

02:00 kami berangkat dari Jakarta Timur

03:19 sampai di gerbang tol Cikampek, tap emoney Rp15,000

04:18 istirahat di rest area km 166 (duh toiletnya jorok banget, uda gitu hampir semuanya jongkok lagi)

04:54 sampai di gerbang tol Palimanan, tap emoney Rp107,500

07:05 sampai di gerbang tol Kalikangkung, tap emoney Rp217,500

07:20 sampai di gerbang tol Banyumanik, cuma tap emoney uangnya belum dikurangi

07:30 istirahat di rest area tapi lupa km berapa maap (maklum anak udah bangun dan gak bisa diem) 

08:20 keluar dari gerbang tol Boyolali, kayanya Rp120,000

10:00 sampe di Jogja

Kalo di total biaya tolnya sekitar Rp460,000 ya. Gak terima uang tunai loh, jadi harus siapin emoney atau semacamnya yg diterima sama mesin. Isi aja emoney-nya Rp500,000. Ditambah uang tunai buat bensin Rp400,000. Buat makan dan jaga-jaga Rp100,000. Jadi sebenernya gak murah juga ya road trip naik mobil dari Jakarta ke Jogja. Bisa murah, kalo patungan rame-rame. Misal satu mobil 5 orang gitu. Berarti biaya satu orangnya cuma Rp200,000an kan. Nah kenapa kami pakai mobil? Karena suami bawa barang dan alat-alat banyak. Dia kalo ke Jogja selalu lanjutin renov renov kecil jadi bawa alat dan bahan dari Jakarta, karena beli di Jogja kadang gak ada. Dan kali ini ajak anjing. Selain itu juga kalo mau kemana-mana di Jogja jadi gampang, gak perlu sewa mobil atau keluar biaya buat grab/gojek. Apalagi sekarang ada pendemi jadi diusahakan banget untuk gak naik kendaraan umum.

Ya udah gitu dulu deh panjang banget nulisnya. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!




Rabu, 23 September 2020

Beberapa bulan lagi nambah umur, selama ini udah ngapain aja sih?

Entah kenapa kemarin ini mikirin banyak hal sampe pusing sendiri. Salah satunya mikirin bahwa sebentar lagi aku udah mau umur 28 tahun, aku udah ngapain aja sih? Udah berbuat apa aja untuk orang lain?

Jujur aja sebelum ketemu suamiku, hidupku rasanya kaya nggak beraturan dan nggak berarah banget. Nggak tau mau jadi apa, nggak tau maunya apa. Hidup di keluarga yg berantakan juga sangat tidak membantu. Dibohongi, sakit hati, berjuang tapi tanpa hasil, toxic relationship, depresi, dan masih banyak lagi yg lain. Aku udah mengalami itu semua. Bukannya nggak bersyukur ya, banyak juga hal baik yg terjadi dalam hidupku. Aku bisa bernapas, berjalan, berbicara, melihat, mendengar, punya badan sehat, ada tempat tinggal, aku sangat bersyukur akan hal itu.

Kalo ditanya udah ngapain aja, mungkin jawabannya sedang mencari tujuan hidup kali ya. Kedengerannya berlebihan alias lebai, tapi emang bener begitu. Setelah lulus SMA aku rasanya seperti tersesat sekali. Baru 4 tahun terakhir ini, aku merasa akhirnya aku punya tujuan. Jangan dibandingkan ya, tiap orang beda-beda. Aku ketemu sama suamiku, yg percaya bahwa aku mampu melakukan apa saja. Nggak pernah sekalipun dia menganggap bahwa aku nggak mampu mewujudkan mimpiku. Dia selalu dengerin aku dan berusaha untuk kasih aku yg terbaik. 

Pertanyaan yg kedua, udah berbuat apa aja untuk orang lain? Jujur belum banyak. Selama ini terlalu sibuk dengan kehidupan, sampai lupa berbuat sesuatu untuk orang lain. Ini akan menjadi tujuan hidupku selanjutnya dan semoga bisa cepat diwujudkan, entah seperti apa bentuknya nanti.

Dan yg paling penting dari semuanya, aku bersyukur banget bisa dikasi anak yg sehat dan pintar. Masih perjuangan banget untuk menjadi orang tua, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi ibu yg baik bagi anakku. Menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Selain itu... Sebenernya aku suka banget nulis tentang pengalaman hidupku. Blog ini tuh udah aku punya dari tahun 2008 loh. Menjawab pertanyaan yg tadi "udah ngapain aja?", udah banyak pengalaman hidup yg aku tulis. Tapi mulai sekarang, aku putusin sementara ini aku ngga pingin mempublikasikan tulisan-tulisanku yg dahulu karena aku mau bergerak ke depan. Terus terang aja aku masih dalam proses untuk menerima masa laluku yg sudah terjadi. Aku mau mulai halaman yg baru. Doakan aku ya. Semoga seterusnya aku bisa konsisten menulis di blog ini dan aku sangat berharap semoga tulisanku bisa bermanfaat untuk orang lain.

Minggu, 05 Mei 2019

Surat Untuk Papi

Dear Papi,

baru sekarang aku sanggup menulis ini untuk Papi. Tepat satu bulan yang lalu Papi pergi. Ya, aku tahu, aku pakai kata "pergi". Selain karena aku benci kata "meninggal", aku berharap kemanapun Papi "pergi", aku masih bisa bertemu Papi suatu saat nanti. Dimanapun Papi berada sekarang, aku benar-benar berharap Papi sudah tenang dan bahagia.


Setelah Papi pergi, entah kenapa aku berusaha mengumpulkan memori-memoriku waktu Papi masih disini. Memori yang bahagia. Terutama ketika dulu Papi ajak aku ke Bali, kita berlima satu keluarga menikmati indahnya matahari terbit di pantai Sanur. Betapa waktu cepat berlalu ya Pi...


Aku minta maaf ya Pi, sewaktu Papi disini mungkin aku terlalu keras terhadap Papi. Jujur saja aku kecewa dan masih belum mengerti kenapa Papi melakukan apa yang sudah Papi lakukan. Begitu juga terhadap Mami, aku masih tidak habis pikir kenapa Mami melakukan apa yang sudah Mami lakukan. Saat itu, semuanya terasa tidak berfungsi di rumah. Hancur. Berantakan. Hati rasanya marah. Sedih. Kecewa.


Tapi tanggal 7 Mei lalu, aku melahirkan seorang anak. Aku juga sedih sekali, Papi belum sempat bertemu dengan anakku Maverick. Setelah kehadiran Maverick, aku melihat semuanya dari sisi yang berbeda. Papi dan Mami, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, hanya berusaha untuk membangun dan membina sebuah keluarga. Papi dan Mami mungkin memang tidak tahu bagaimana cara yang benar. Tidak ada keluarga yang sempurna.


Terima kasih ya Pi, untuk semua yang sudah Papi berikan untukku dan keluarga. Sewaktu aku bongkar barang Papi, ada catatan Papi. Melihat tulisan tangan Papi saja masih sedih sekali rasanya. Begitu banyak yang sudah Papi rencanakan untuk keluarga Papi, terutama untuk anak-anak. Terima kasih Papi selalu merayakan hari lahirku. Terima kasih sudah memberi bekal berbagai ilmu, yang tidak semua anak bisa dapatkan. Terima kasih Papi sudah bawa aku ke tempat-tempat yang menyenangkan dan indah, yang sekali lagi tidak semua anak bisa dapatkan. Sebagai anak, aku termasuk yang beruntung, bisa punya Papi selama 26 tahun. Aku tahu, Papi hanya berusaha supaya keluarga bisa senang dan bahagia.


Dibalik kebahagiaan, pasti ada cobaan. Semua masalah kehidupan yang Papi hadapi, sepertinya sudah menumpuk di ujung hidup Papi. Maka dari itu Papi sakit, dan aku masih tidak habis pikir juga kenapa Papi tidak pernah mengeluh sakit. Papi juga tidak pernah menceritakan kesulitan maupun masalah yang Papi hadapi. Sampai akhirnya Papi kewalahan, kemudian Papi sakit parah. Aku sedih sekali melihat Papi dibawa dari rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Selain itu harus operasi berat di umur yang sudah tua. Maaf ya Pi, Papi harus melalui itu semua di penghujung hidup Papi.


Kalau aku bisa mengulang waktu, aku berharap aku bisa ngobrol yang lama sama Papi. Aku menyesal, aku tidak terlalu tahu kehidupan Papi seperti apa sebelum bertemu Mami. Aku tidak terlalu tahu apa yang sudah Papi alami sebelumnya, peristiwa apa yang membentuk karakter diri Papi. Aku juga berharap juga Papi bisa lebih terbuka ke keluarga. Tapi ya sudah, Papi sudah pergi. Semoga aku bisa ambil pelajaran dari hidup yang aku punya dahulu sama Papi, dan pastinya tidak mengulang kesalahan yang sama kepada suamiku dan Maverick.


Sudah dulu ya Pi, Papi yang tenang ya disana. Aku janji, aku akan tulis lagi untuk Papi. Aku tidak akan melupakan Papi.


Aku sayang Papi.


Love,

Ola

Rabu, 11 April 2018

Pameran Buku Big Bad Wolf 2018 BSD City Tangerang

Halo teman-teman!

Kemarin Sabtu tepatnya tanggal 7 April 2018 saya dan suami mengunjungi pameran buku dari Big Bad Wolf di ICE BSD Tangerang. Banyak banget orang! Maklum, hari Sabtu, uda gitu sore lagi. Pameran ini diadakan dari tanggal 29 Maret sampai 9 April 2018. Hebatnya selama pameran ini buka 24 jam non stop dalam satu hari. Ini baru pertama kalinya untuk saya, dan waktu saya tanya staff disana katanya tahun ini terakhir pameran ini diadakan. Tahun depan udah ga ada lagi. Huhuuu sedih. Tapi gapapa, biar hemat pengeluaran. Karena kemarin saya kesana, pengeluarannya sampe satu juta rupiah lebih... Hahaha. Ga nyangka ternyata suami juga kalap. Tapi masih banyak lho orang lain yang jauh lebih kalap. Banyak ibu-ibu sampe satu trolley penuh beli bukunya, mungkin seneng banget ya dengan harga yang miring bisa beliin banyak buku buat anak-anaknya. Karena pameran kali ini memang isinya banyak banget buku anak-anak. Sekitar 60% deh dari semua buku yang ada. Saya pingin beliin buku buat ponakan saya sebenernya, tapi saya inget di rumah mereka buku udah banyak banget dan bahkan ada yang belum dibuka bungkusnya. Ya udahlah ya ga usah dulu.

Sedangkan kalau saya sukanya baca novel fiksi, classic english literature dan (my guilty pleasure) young adult books. Saya juga suka banget sama novel fiksi bahasa Indonesia, yang jaman dulu contohnya punya Pramoedya Ananta Toer. Kalo yang jaman sekarang Dewi Lestari atau Tere Liye. Tapi kayanya udah diserbu habis novel bahasa Indonesianya, karena saya ga nemu yang bagus-bagus itu. Yang saya paling senang, suami juga beli buku terutama self-help book yang tentu saja ditujukan untuk saya. Dulu saya pernah dapet hadiah dari dia buku seperti itu, dan sekarang saya dibeliin lagi. I am really looking forward to get another book from him hehehe. Udah gitu waktu liat-liat buku, masa tiba-tiba ada segerombolan remaja cewek. Tebak lagi ngapain? Lagi rebutan buku. Bukunya adalah 'The Vampire Diaries'. Dan mereka rebutan karena cuma ada satu buku yang gambar sampulnya ada si Paul Wesley aka Stefan Salvatore vampir ganteng yang udah berumur lebih dari 150 tahun. Hahahaha ngakak abis kalo inget itu.

Nih ada beberapa foto dari pameran kemarin:


Ini foto saya ambil sembari duduk ndlosor di lantai...
Telapak kaki udah nyut-nyutan setelah kurang lebih dua setengah jam,
muterin hall liat-liat ada buku apa aja hahaha


Sambil duduk di lantai saya juga sortir buku, mana yang mau dibeli dan mana yang ga.
Karena buat saya ini udah banyak sekaliii


Pemandangan dari kasir pas jalan keluar


Selain buku ada juga plat model jadul pajangan dijual


Mungkin setelah ini saya akan tulis review buku-buku yang udah saya baca kali ya... Stay-tuned!